Minggu, 26 Juni 2011

Togog



Togog, semula bernama Batara Antaga, salah satu dari tiga cucu Sanghyang Wenang. Dua cucu lainnya adalah Batara Ismaya yang nantinya menjadi Semar dan Batara Manikmaya yang nantinya menjadi Batara Guru. Karena mereka beradu kesaktian maka terjadilah hal yang mengubah wujud Batara Antaga dan Batara Ismaya.

Kejadiannya bermula dari keinginan untuk menunjukkan siapa di antara mereka bertiga yang paling unggul. Maka diadakanlah sayembara untuk menelan Gunung Jamurdipa. Sebagai yang sulung, Batara Antaga mendapat giliran pertama. Dia berusaha menelan Gunung Jamurdipa bulat-bulat yang mengakibatkan robek pada mulutnya. Matanya juga menjadi melotot karena dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menelan Gunung Jamurdipa.

Apa daya, gunung tetap tegak berdiri. Batara Antaga menyesal karena wajahnya yang semula rupawan, kini menjadi buruk rupa. Oleh Sanghyang Wenang dia diperintahkan turun ke marcapada untuk menjadi panakawan para raja seberang lautan, yaitu mereka yang memiliki watak jahat dan angkara murka. Jadi Togog tidak hanya mengabdi pada satu orang, melainkan berganti-ganti. Bila direnungkan lebih jauh, tugas Togog adalah mulia karena dia berusaha mengingatkan para raja itu untuk kembali kepada keutamaan sebagai manusia. Hanya sayang sekali peringatan yang diberikannya sering tidak diindahkan.
Togog memiliki nama lain yaitu Tejamantri atau Wijamantri.

Sabtu, 25 Juni 2011

Petruk




Di dalam pewayangan Indonesia, khususnya Jawa, Petruk mempunyai nama lain, yaitu Tongtongsot, Suragendila, Surajenggala, Dubla Jaya, Jengglong Jaya, Penthung Pinanggul, Ronggangjiwan, Kantongbolong, Kyai Supatra, Kebo Debleng, dan Prabu Belgeduwel Beh (ada juga yang menyebut Welgeduwel Beh). Sedangkan dalam pewayangan Sunda, Petruk dikenal sebagai Dawala atau Udel.

Menurut pewayangan Jawa, Petruk semula bernama Bambang Penyukilan, anak dari Begawan Rajaswala atau disebut juga Begawan Selantara di Padepokan Kembangsore. Bambang Penyukilan memiliki wajah tampan dan tubuh sempurna. Bagaimana dia kemudian menjadi Petruk yang berhidung panjang, kurus berperut buncit, berlengan dan berkaki panjang, adalah karena disabda oleh Batara Ismaya (baca kisahnya dalam entri Gareng).

Petruk memiliki sifat periang, senang bernyanyi, lucu, dan setia kepada tuannya. Dia adalah pengasuh Abimanyu, putra Arjuna. Tokoh Petruk sering muncul dalam lakon carangan misalnya dalam "Petruk Dadi Ratu", dia tampil sebagai Prabu Belgeduwel Beh, penguasa negeri Lojitengara. Sebagai Prabu Belgeduwel Beh, Petruk memorakporandakan banyak negeri terutama Amartapura. Dia juga berhasil mencuri pusaka Yudhistira, yaitu Jamus Kalimasada.

Sebagai Prabu Belgeduwel Beh, Petruk berhasil mengalahkan Prabu Pandu Pragolamanik dari negeri Trancanggribig atau Parang Gumiwang yang tak lain adalah Gareng. Lantas Prabu Belgeduwel Beh sendiri berhasil dikalahkan oleh Bagong. Prabu Belgeduwel Beh kembali ke bentuk semula sebagai Petruk.

Petruk mempunyai istri bernama Dewi Ambarawati atau Dewi Wrantawati, putri Prabu Ambaraja di negeri Pandansurat. Petruk memiliki Dewi Ambarawati setelah memenangkan sayembara pinangan mengalahkan pelamar lainnya. Dewi Ambarawati diboyong ke Girisarangan dan yang bertindak sebagai wali perkawinan mereka adalah Resi Parikenan. Dari perkawinannya dengan Dewi Ambarawati, Petruk mempunyai seorang anak yaitu Lengkung Kusuma.

Bentuk tubuh Petruk yang serba panjang melambangkan kehidupan yang serba "momot-kamot ing kawruh" atau mampu menerima segala pengetahuan dengan baik. Nama Kantongbolong yang diberikan kepadanya bermakna keikhlasan, siap menerima pengetahuan yang baik dan selalu siap untuk membagikannya kepada orang lain.

Gareng


Bentuk hidung membulat, mata juling, lengan bengkok, kaki pincang, perut buncit. Demikianlah penampilan Gareng atau Nala Gareng. Sama seperti tokoh Panakawan lainnya, Gareng hanya dijumpai dalam khazanah pewayangan Indonesia. Kisah Mahabharata versi India tidak memuat perihal Gareng. Hal ini menunjukkan tingginya daya kreativitas para seniman wayang Indonesia, khususnya Jawa, untuk membumikan kisah dari negeri seberang. Di dalam berbagai kisah, Gareng disebut sebagai anak Semar. Akan tetapi siapakah Gareng sebenarnya?

Adalah sebuah padepokan yang bernama Padepokan Bluluktiba. Pemilik padepokan adalah Resi Sukskadi, seorang brahmana. Resi Sukskadi memiliki seorang anak bernama Bambang Sukskati. Putra tunggal Resi Sukskadi ini memiliki paras wajah yang cukup menawan dan tubuh yang sentosa. Suatu ketika Bambang Sukskati memohon ijin ayahnya untuk pergi bertapa di bukit Candala.

Selesai bertapa, Bambang Sukskati berpamitan pada ayahnya untuk pergi mengembara. Merasa telah memiliki ilmu kesaktian tanpa tanding, Bambang Sukskati menaklukkan banyak ksatria dan raja-raja. Karena Bambang Sukskati memang berilmu tinggi, maka dengan mudah dia mengalahkan semua lawan-lawannya. Kemenangan demi kemenangan membuat dia membusungkan dada, menyombongkan dirinya.

Di dalam perjalanan dia berjumpa dengan Bambang Penyukilan, anak seorang pendeta gandarwa bernama Begawan Selantara yang memiliki padepokan di Kembangsore. Sama seperti Bambang Sukskati, Bambang Penyukilan juga memiliki sifat congkak karena berilmu tinggi.

Perjumpaan keduanya menimbulkan sengketa karena masing-masing merasa sebagai orang paling sakti. Mereka bergelut selama lima hari lima malam dan masing-masing belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah. Kesaktian keduanya setara. Akibat perkelahian mereka, terjadi kerusakan di banyak tempat di bumi.

Perkelahian antara Bambang Sukskati dan Bambang Penyukilan mengundang perhatian Batara Ismaya. Keduanya dinasihati oleh Batara Ismaya untuk menghentikan perkelahian karena perkelahian mengakibatkan kebencian dan dendam, yang merupakan kejelekan hidup yang harus dihindari. Sayang sekali baik Bambang Sukskati maupun Bambang Penyukilan tidak menggubris nasihat Batara Ismaya. Keduanya ingin melanjutkan perkelahian hingga diketahui siapa yang paling unggul di antara mereka.

Melihat sikap keduanya Batara Ismaya bersabda, bahwa kesombongan, kecongkakan adalah suatu kejelekan. Selesai bersabda demikian, tubuh Bambang Sukskati dan Bambang Penyukilan berubah. Wajah mereka yang semula tampan, menjadi buruk rupa. Keduanya mengakui kesalahan dan mengakui bahwa ilmu kesaktian mereka belum sebanding dengan kesaktian Batara Ismaya. Oleh Batara Ismaya, Bambang Sukskati diberi nama Nala Gareng, sedangkan Bambang Penyukilan diberi nama Petruk. Pada saat itu juga datanglah Resi Sukskadi dan Begawan Selantara. Mereka memohonkan ampun atas kesalahan anak-anak mereka. Mereka sepakat untuk menyerahkan anak mereka kepada Batara Ismaya. Akhirnya kedua anak itu diangkat sebagai anak oleh Batara Ismaya atau Semar.

Nala Gareng memiliki nama sebutan lain, yaitu Cakrawangsa, Pegatwaja, Pancalpamor, Pandu Pragolamanik, Pandu Bergola, dan Bambang Jati Pitutur. Nama Pancalpamor bermakna menolak gemerlapnya duniawi. Pegatwaja bermakna menghindari makanan yang tidak pantas untuk dimakan. Nala Gareng sendiri bermakna "hati yang kering" artinya hati yang telah mampu melepaskan segala keinginan duniawi. Nala, hati; Gareng, garing.

Gareng di dalam lakon carangan tampil sebagai seorang raja bernama Pandu Pragolamanik atau Pandu Bergola. Dia menguasai sebuah kerajaan bernama Parang Gumiwang. Sebagai Pandu Pragolamanik, Gareng mengalahkan semua raja-raja dan bermaksud menguasai Amartapura. Tentu saja dia harus berhadapan dengan Pandawa. Gareng berhasil mengalahkan kelima Pandawa dengan mudah.

Munculnya Prabu Pandu Pragolamanik atau Pandu Bergola ini membuat suasana gempar di marcapada. Di lain pihak Semar, Petruk, dan Bagong kebingungan karena Gareng pergi tanpa pamit. Keberadaan Gareng tidak diketahui. Beruntung Pandawa mempunyai seorang penasihat utama, Sri Batara Krishna. Krishna menyarankan kepada Semar, bila ingin bertemu dengan Gareng, dia harus merelakan Petruk melawan Prabu Pandu Pragolamanik. Mendengar saran Krishna, Semar cepat tanggap dan paham benar apa yang dimaksud oleh penasihat Pandawa itu. Sebaliknya Petruk menjadi gamang karena dia telah mendengar kesaktian Prabu Pandu Pragolamanik.

Melihat Petruk gamang, Semar membisikkan sesuatu ke telinga Petruk. Akhirnya Petruk menyanggupi untuk berhadapan dengan Prabu Pandu Pragolamanik. Pada waktu Petruk bertemu dengan Prabu Pandu Pragolamanik, penguasa Parang Gumiwang ini selalu menghindari tatapan mata Petruk, entah dengan cara membelakangi, entah dengan menundukkan kepala. Keduanya terlibat perkelahian seru, hingga akhirnya Prabu Pandu Pragolamanik berubah wujud kembali menjadi Gareng.

Tujuan Gareng menjadi raja dan menyerang Amartapura adalah untuk mengingatkan para Pandawa agar tidak melalaikan dharma mereka sebagai ksatria dan raja dalam menyejahterakan rakyat, menjaga keamanan negara dan bangsa. Jangan karena negara telah mencapai kemakmuran, lantas melalaikan kewajiban menjaga keamanan negara dan bangsa.

Gareng memiliki sifat periang, suka bercanda, dan setia kepada tuannya. Dia memiliki seorang isteri bernama Dewi Sariwati, putri Prabu Surawasesa dan Dewi Saradewati dari negeri Selarengka.

Mata Gareng yang juling melambangkan telah lenyapnya keinginan untuk memiliki kepunyaan orang lain, lengan yang bengkok melambangkan lenyapnya keinginan untuk mengambil hak orang lain, dan kaki yang pincang melambangkan kehati-hatian di dalam mengambil tindakan.

Minggu, 01 Februari 2009

Bagong



Sama seperti Semar, tokoh Bagong tidak akan dijumpai dalam versi pewayangan India. Bahkan di Jawa pun, tokoh Bagong tidak akan ditemui dalam pewayangan gaya Surakarta yang asli. Hal ini dapat diketahui dari berbagai serat pedalangan gaya Surakarta yang menyebutkan, bahwa pengiring para ksatria pembela kebenaran adalah Semar, Nala Gareng, dan Petruk. Tidak disebut nama Bagong di dalamnya. Bagong ditemui dalam pewayangan gaya Yogyakarta. Namun karena perkembangan zaman, tokoh Bagong kini pun dimainkan juga dalam pewayangan gaya Surakarta. Di dalam pewayangan gaya Banyumas, Bagong disebut Bawor. Sedangkan di Sunda, Bagong disebut dengan nama Astrajingga, Carub, Cepot, Kacepot, atau Kacipot.

Siapakah Bagong? Menurut cerita, setelah Ismaya menyedot gunung dan turun ke marcapada, ia kebingungan karena tidak punya teman. Maka ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal seorang teman. Oleh Sang Hyang Tunggal, Ismaya disuruh melihat apa yang ada di belakangnya. Di depan Sang Hyang Tunggal yang bercahaya benderang itu, Ismaya menoleh ke belakang. Ia hanya melihat bayang-bayang dirinya. Maka Ismaya berkata, bahwa ia hanya melihat bayang-bayang.

Sang Hyang Tunggal bertitah, bahwa bayang-bayang itulah yang akan menemani Semar selama mengembara di dunia. Sekejap itu juga bayang-bayang Ismaya menjadi timbul, bergerak, dan akhirnya menjadi sosok yang hampir mirip dengan dirinya. Berbadan bulat dan gemuk. Namun demikian ada juga bedanya. Jika Semar bermata sipit berair, Bagong bermata lebar. Hal ini terjadi karena pada waktu memperhatikan bayang-bayang dirinya sendiri, Semar melotot untuk memastikan ia tidak salah lihat. Kemudian mulut Bagong juga lebih menggantung (Jawa = ndomblé) karena ketika melihat bayang-bayang dirinya, Semar mencebikkan bibir bawahnya, menyangsikan ucapan Sang Hyang Tunggal.

Bayang-bayang Semar yang menjelma menjadi sosok manusia itu kemudian diberi nama Bagong, berasal dari kata mbokong (menoleh ke arah belakang/bokong). Oleh Semar, Bagong diaku sebagai anaknya. Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa Bagong adalah “anak sulung” Semar di marcapada. Kedua anak Semar lainnya adalah Nala Gareng dan Petruk. Akan tetapi yang umum dikisahkan di pewayangan, Bagong adalah anak bungsu dan Nala Gareng sebagai yang sulung.

Bagong memiliki sifat jenaka, usil, kekanak-kanakan dalam arti polos-jujur-apa adanya, dan pandai menarik perhatian para ksatria yang dilayaninya. Di dalam lakon pewayangan carangan, Bagong pernah menjadi raja dengan nama Prabu Pacekol atau Patakol atau Jayapetakol. Dikisahkan Bagong merasa sedih dan berjalan tak tentu arah. Drupadi istri Yudhistira melihat kesedihan Bagong. Maka Drupadi menanyai sebab musabab kesedihan Bagong. Mendengar penuturan abdi Pandava itu, maka Drupadi lantas meminjamkan pusaka Yudhistira kepadanya. Bagong bersalin rupa dan mengambil nama diri Prabu Pacekol. Berbekal pusaka Jimat Kalimasada, Bagong meminjam takhta Drupada raja Pancala yang juga ayah Drupadi. Jika Drupada menolak, akan dibunuhnya. Terjadilah huru-hara. Prabu Pacekol akhirnya bisa dikalahkan oleh Nala Gareng dan Petruk, berubah wujud kembali menjadi Bagong.

Bagong mempunyai istri Dewi Baganawati, seorang anak raja gandarva - Prabu Balyan dari kerajaan Pucangsewu.

Semar



Tokoh Semar dan panakawan lain adalah khas wayang Nusantara – khususnya Jawa-Sunda, tidak akan dijumpai dalam wayang versi aslinya – India. Di mata orang Jawa, Semar adalah dewa yang menjelma menjadi manusia. Semar adalah manusia-dewa, dewa-manusia.

Berdasarkan Serat Paramayoga, Sang Hyang Tunggal mempunyai putra bernama Ismaya yang dilahirkan dari rahim Dewi Rakti. Oleh Hyang Tunggal, Ismaya diberi wewenang untuk menguasai Sunyaruri dan memperistri Dewi Senggani – anak dari Sang Hyang Ening. Adapun Sang Hyang Ening dan Sang Hyang Tunggal berasal dari sumber yang sama, Sang Hyang Wenang.

Dari perkawinannya dengan Dewi Senggani, Sang Hyang Ismaya memiliki sepuluh putra, yaitu Sang Hyang Wungkuhan (Bongkotan), Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kuwera, Sang Hyang Temburu (Temboro), Sang Hyang Kamajaya, dan Dewi Sarmanasiti (Darmanastiti).

Menurut versi pedalangan lain, Sang Hyang Ismaya dilahirkan oleh Dewi Rekathawati, putri Prabu Rekathatama – raja jin di samudera kahyangan. Kemudian Ismaya diberi kuasa di Tejamaya dan menikah dengan Dewi Kanastri (Kanastren atau Sinduragen). Dari Dewi Kanastri Ismaya memiliki sepuluh anak, 9 laki-laki dan 1 perempuan.

Versi lain lagi menyebutkan, bahwa Semar berasal dari putih telur. Konon sebelum dunia dijadikan, Sang Hyang Tunggal mempunyai sebutir telur. Bagian kulit luar menjelma menjadi Tejamaya, putih telur menjelma menjadi Ismaya, dan kuning telur menjelma menjadi Manikmaya. Ketiga putra dewa yang sangat rupawan ini saling berebut perhatian dari Sang Hyang Wenang. Oleh karena itu mereka berusaha menunjukkan diri sebagai yang paling sakti mandraguna.

Maka diadakanlah sayembara untuk menjadi yang terhebat. Isi sayembara adalah siapa yang dapat menelan gunung, dialah yang paling sakti. Mereka mencari gunung terbesar di semesta. Sebagai yang sulung, Tejamaya mendapat giliran yang pertama. Tejamaya membuka mulutnya lebar-lebar agar bisa menelan gunung. Karena usahanya terlalu keras, sudut-sudut mulutnya robek dan gunung tidak tertelan jua. Mulut yang robek melebar dan tidak bisa utuh kembali itu membuat wajah Tejamaya yang tampan menjadi sirna. Menangislah Tejamaya.

Melihat kakaknya gagal, Ismaya menggunakan cara lain. Ia berusaha menyedot gunung sedikit demi sedikit. Usaha itu berhasil. Selama menyedot gunung, Ismaya mengeluarkan seluruh kesaktiannya. Ia mencoba menahan rasa sakit karena batu-batu gunung melewati kerongkongannya. Lambat laun Gunung raksasa telah berpindah ke dalam perutnya. Namun akibatnya wajah Ismaya yang tampan menjadi buruk, matanya rembes berair. Tidak hanya itu, perutnya juga membesar. Sama seperti Tejamaya, Ismaya menyesal dan menangis.

Rupanya tangis Tejamaya dan Ismaya terdengar oleh Sang Hyang Tunggal. Maka keduanya mendapat teguran keras. Sebagai hukuman, Tejamaya dan Ismaya disuruh turun ke marcapada atau dunia. Mereka harus menjadi abdi bagi kebenaran. Tejamaya yang juga disebut Tejamantri mengabdi kepada para raja atau ksatria yang tidak lurus hati menurut pandangan dunia batin Jawa. Tejamantri harus mengingatkan mereka untuk kembali kepada kebenaran. Ismaya mengabdi kepada para raja atau ksatria yang lurus hati seperti Pandava, misalnya.

Sedangkan Manikmaya yang tidak mendapat giliran menelan gunung diberi kepercayaan oleh Sang Hyang Wenang untuk memimpin para dewa di kahyangan. Manikmaya kemudian dikenal sebagai Batara Guru. Sementara Tejamaya setelah menjadi abdi, biasa disebut sebagai Togog.

Ismaya sendiri memiliki nama lain selain Semar, yaitu Badranaya, Janggan Asmarasanta, Sang Dyah Juru Puntaprasanta, Nayantaka, dan Duda Manangmunung. Tempat tinggalnya di marcapada disebut Padepokan Klampis Ireng atau Karang Kadempel atau Karang Kabulutan.

Oleh masyarakat Jawa Semar digambarkan memiliki sifat baik: cerdas, sabar, senantiasa memberi nasihat, suka bercanda. Namun sebaliknya Semar pada waktu marah, tak ada raja, ksatria, maupun dewa yang dapat mengalahkannya. Ia memiliki senjata berupa kentut.

Nama Semar sendiri mengandung arti “tidak dapat diungkapkan dengan jelas”, samar. Semar, samar, samar-samar. Bentuk tubuh Semar dalam wayang kulit terlihat sebagai laki-laki yang berpayudara besar, berperut buncit seperti perempuan mengandung, dan berpantat besar. Bagi masyarakat Jawa, Semar itu ora lanang ora wadon, bukan laki-laki bukan perempuan. Tidak jelas, samar-samar. Inilah keunikan Semar sebagai simbol dewa yang menjelma menjadi manusia.

Minggu, 04 Januari 2009

Shalya


Shalya (शल्‍य) atau Salya atau Salyapati putra Artayana, raja Madra. Dalam versi Jawa, Shalya pada masa muda bernama Narasoma. Shalya mempunyai adik perempuan bernama Madri – yang kelak menjadi ibu Nakula dan Sadeva. Ketika dewasa ia diminta oleh Artayana untuk menikah. Namun permintaan sang ayah tak dihiraukannya. Shalya pergi dari istana dan mengembara.

Dalam pengembaraan itu Shalya berjumpa dengan seorang brahmana raksasa bernama Bagaspati. Resi Bagaspati menceritakan, bahwa putrinya bermimpi jatuh cinta dan menikah dengan Shalya. Bagaspati bermaksud menjadikan Shalya sebagai menantunya. Lantaran mengira Pujawati – anak Resi Bagaspati – juga berwajah raksasa, maka Shalya menolak. Akibatnya terjadilah pertarungan antara Shalya dengan Resi Bagaspati.

Shalya tidak mampu menandingi kesaktian Bagaspati. Maka takluklah ia kepada resi raksasa itu. Setelah berjumpa dengan Pujawati, Shalya berubah pikiran melihat kecantikan anak Resi Bagaspati itu dan ia jatuh hati. Keduanya pun kemudian menikah. Meski demikian Shalya merasa tidak bangga karena memiliki mertua berwajah raksasa.

Perasaan Shalya ini disampaikan Pujawati kepada ayahnya. Resi Bagaspati kemudian menantang Pujawati agar memilih dirinya sebagai ayah atau Shalya sebagai suami. Sebuah pilihan yang tidak mudah. Namun demikian Pujawati akhirnya memilih Shalya. Hal ini membuat Bagaspati merasa bangga karena memiliki putri yang setia. Maka Bagaspati mengubah nama Pujawati menjadi Setyawati.

Resi Bagaspati juga merelakan dirinya dibunuh oleh Shalya agar tidak mengganggu pikirannya. Meski demikian tak satupun senjata Shalya yang dapat melukai tubuh Bagaspati. Demi melihat mertuanya tidak juga binasa, maka Shalya memohon agar Resi Bagaspati melepaskan seluruh ilmu kesaktiannya. Resi Bagaspati menyanggupi untuk melepaskan Rudrarohastra (dalam versi Jawa Ajian Candabhirawa) dan mewariskannya kepada Shalya.

Setelah ilmu kesaktian itu beralih wadah, dengan mudah Shalya membunuh sang resi dengan cara menusuk siku Resi Bagaspati. Shalya kemudian memboyong Setyawati ke Madra untuk diperkenalkan kepada ayahnya.

Raja Artayana gembira melihat anaknya membawa Setyawati. Akan tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama setelah mengetahui, bahwa Shalya membunuh Resi Bagaspati. Ternyata Artayana dengan Resi Bagaspati adalah dua sahabat karib. Karena membunuh sahabatnya, maka Shalya diusir oleh Artayana dari istana. Shalya bersama Setyawati pergi meninggalkan Madra. Madri yang belum hilang rasa rindunya, bergegas pergi menyusul kakaknya.

Dalam pengembaraan, Shalya tiba di kerajaan Mathura atau Mandura. Di tempat itu sedang diadakan sayembara dengan hadiah putri raja bernama Kunti. Shalya mengikuti sayembara itu dengan maksud untuk menguji Ajian Candabhirawa, bukan untuk meminang Kunti. Ia berhasil mengalahkan semua raja dan ksatria yang mengikuti sayembara, kecuali Pandu. Ajian Candabhirawa yang dimilikinya berhasil dipunahkan oleh Pandu. Sebagai tanda takluk Shalya menyerahkan adiknya, Madri, kepada Pandu.

Saat masih di dalam pengembaraan, Shalya mendengar berita kalau ayahnya wafat. Artayana begitu sedih karena kehilangan sahabatnya, juga karena merasa gagal menjadi ayah yang baik dan tidak bisa mendidik anak. Artayana kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Shalya kembali ke Madra dan menjadi raja menggantikan ayahnya.

Dari perkawinannya dengan Setyawati, Shalya memiliki lima orang anak, yaitu Erawati, Surtikanti, Banowati, Burisrawa, dan Rukmarata. Sedangkan menurut versi India, Shalya hanya memiliki dua anak yaitu Rukmarata dan Rukmanggada.

Salah satu sifat buruk Shalya adalah tinggi hati. Kesombongannya ditunjukkan dengan menerima lamaran Duryodhana atas Erawati. Ia merasa mendapat kehormatan karena menantunya adalah raja kerajaan terbesar di dunia. Tanpa pikir panjang lamaran itu diterima. Namun garis dewata berkata lain. Erawati hilang diculik oleh Kartapiyoga dari Girikadasar.

Atas bantuan Baladeva, Erawati berhasil diselamatkan. Menurut perjanjian seharusnya Erawati diserahkan kepada orang yang berhasil menyelamatkannya. Namun Shalya hendak mengingkari janji karena melihat Baladeva dalam sosok seorang pendeta. Baru setelah Shalya tahu kalau Baladeva adalah raja Mathura, Erawati diserahkannya.

Lamaran Duryodhana datang kedua kalinya. Kali ini Surtikanti yang hendak diberikannya. Akan tetapi Surtikanti diculik dan diperistri oleh Karna, adipati dari Awangga. Melihat bahwa yang menculik dan mengawini Surtikanti adalah Karna, Duryodhana merelakannya karena ia merasa berhutang budi kepada putra Batara Surya itu. Kelanjutannya, Duryodhana kemudian menikahi Banowati.

Menjelang pecahnya Bharatayudha, Shalya berniat berpihak kepada Pandava. Akan tetapi karena tipu muslihat Kaurava, terpaksa Shalya mengalihkan dukungannya kepada Kaurava. Meski demikian Shalya memberikan doa dan berkatnya untuk kemenangan Pandava. Hal ini tertulis dalam Udyogaparva.

Ketika pecah Bharatayudha, Shalya menjadi kusir bagi kereta perang Karna. Ia berhadap-hadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan Krishna sebagai kusirnya. Karena sebenarnya hatinya untuk Pandava, maka Shalya tidak sepenuh hati mengusiri kereta Karna. Dalam pertempuran itu Karna tewas oleh panah Arjuna.

Setelah Karna tewas, Shalya menjadi panglima perang pihak Kaurava pada hari berikutnya.

Di dalam perang Shalya menggunakan Ajian Candabhirawa. Tak satupun dari pasukan Pandava yang dapat bertahan. Ajian itu berupa raksasa bajang yang jika dilukai, darahnya akan menjelma menjadi raksasa bajang lainnya. Setiap percikan darah menjadi satu raksasa. Maka pasukan raksasa bajang itu kemudian menguasai medan Kurusetra.

Krishna menyuruh Nakula untuk menghadapi Shalya. Melihat yang datang menemuinya adalah keponakannya, Shalya tidak sampai hati dan ia tahu ini adalah muslihat Krishna. Raja kerajaan Madra itu kemudian memberi tahu, kalau orang yang dapat membunuhnya adalah seorang yang memiliki hati bersih, jujur, lurus – sebagai tandingan atas kesombongan dirinya.

Maka Krishna kemudian meminta Yudhistira untuk maju melawan Shalya. Putra sulung Pandu itupun maju ke pertempuran. Ajian Candabhirawa yang digunakan oleh Shalya tidak mampu mengalahkannya. Bahkan raksasa-raksasa bajang itu berbalik mengabdi kepada Yudhistira. Pada saat itu Yudhistira menggunakan pusaka Jamus Kalimasada untuk mengakhiri hidup Shalya. Dalam versi India, Shalya gugur karena panah yang dilepaskan oleh Yudhistira dengan perantaraan Arjuna. Setelah Shalya gugur, Setyawati dan Sugandika – abdinya – menyusul ke Kurusetra dan ikut bunuh diri. Hal ini dipaparkan dalam bagian Salyaparva.

Madri


Madri (माद्री) atau Madrim adalah putri Artayana (dalam versi Jawa disebut Prabu Artadriya atau Mandrapati atau Mandradipa) raja kerajaan Madra atau Madras (dalam versi Jawa disebut Mandaraka). Madri mempunyai seorang kakak bernama Shalya – yang kelak menggantikan Artayana menjadi raja di Madra.

Tidak banyak hal diungkap dari sosok Madri. Ketika Madri dinikahi oleh Pandu dan mengandung, ia meminta supaya Pandu meminjam Lembu Andini kepada Batara Guru. Madri ingin menunggangi Lembu Andini bersama Pandu. Permohonan Madri melalui Pandu dikabulkan oleh Batara Guru dengan satu syarat, jika Madri mati rohnya dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka.

Sesudah melahirkan Nakula dan Sadeva, Madri membakar diri bersama dengan jenazah Pandu. Sedangkan Nakula dan Sadeva diasuh oleh Kunti hingga berakhirnya Bharatayudha.