Minggu, 04 Januari 2009

Kunti


Kunti (कुंती) dilahirkan sebagai putri Surasena dari wangsa Yadu. Pada waktu lahir, Kunti diberi nama Pritha. Kemudian Pritha diadopsi oleh Prabu Kuntibhoja dari kerajaan Mathura atau dalam versi Jawa Prabu Kuntiboja dari Mandura. Sebelum menikah dengan Pandu, Kunti pernah mengandung. Kejadian ini bermula ketika Kunti mengucapkan mantera sebuah ajian yang dalam versi Jawa disebut Kunta Wekas Ing Tunggal Tanpa Lawanan. Ketika ia membaca mantera ajian tersebut, kalimatnya mengundang perhatian Batara Surya – dewa matahari. Surya seketika jatuh cinta kepada Kunti dan keluarlah kama yang menyebabkan Kunti mengandung. Sedangkan dalam versi aslinya, Kunti mendapatkan mantera tersebut dari seorang resi bernama Durvasa atau Druvasa. Keampuhan mantera tersebut adalah dapat mengundang dewa dan mendapatkan keturunan dari dewa tersebut. Karena Kunti tidak percaya kepada kata-kata Resi Druvasa, maka ia merapal mantera itu. Kejadian selanjutnya adalah datangnya Batara Surya yang memberi keturunan kepadanya.

Karena tidak ingin melahirkan sebelum menikah, maka Kunti memohon kepada dewata agar proses kelahiran bayi dalam kandungan tidak melalui jalan semestinya. Permohonan tersebut dikabulkan dan bayi dilahirkan melalui telinga Kunti. Bayi diberi nama Basukarna atau yang berarti telinga. Namun karena ia juga keturunan Batara Surya, maka dinamakan juga Suryaputra atau Suryatmaja. Bayi yang telah dilahirkan Kunti kemudian dihanyutkan ke sungai Yamuna (ada juga yang menyebut sungai Aswa) dan ditemukan oleh Adirata. Adirata adalah kusir kepercayaan Dhritarastra. Sejak saat itu Karna diangkat menjadi anak Adirata.

Kunti kemudian diperistri oleh Pandu. Dari rahim Kunti lahirlah Yudhistira, Bhima, dan Arjuna yang masing-masing adalah titisan Batara Dharma, Batara Bayu, dan Batara Indra. Kunti begitu mengasihi ketiga putranya dan juga kedua putra Madri, yaitu Nakula dan Sadeva yang merupakan titisan Batara Aswin. Ia mengasuh kelima putra Pandu agar menjadi ksatria yang berbudi luhur.

Kesetiaan dan kecintaan Kunti kepada kelima putra Pandu dibuktikan dengan keikutsertaannya mengembara selama 12 tahun di hutan. Kunti tabah menerima setiap cobaan dan hinaan dari Kaurava selama masa pengasingan dan pengembaraan tersebut. Kunti mendampingi Pandava hingga Bharatayudha berakhir. Ia wafat bersama Dhritarastra, Gandari, Yamawidura, dan Sanjaya dalam kebakaran yang menghanguskan pondok pertapaan dan hutan.

Kunti dalam pewayangan menjadi lambang kesetiaan seorang ibu kepada suami dan anak-anaknya. Ia tidak ikut membakar diri bersama jenazah Pandu, seperti Madri, melainkan kesetiaan kepada Pandu ditunjukkannya dengan menjalankan dharma sebagai ibu untuk membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Sifatnya yang pengasih dan penyayang, tabah menanggung derita-sengsara, dijadikan model ibu yang baik bagi para perempuan di India maupun tanah Jawa.

Vidura


Vidura (विदुर) atau dalam versi Jawa disebut Yamawidura dilahirkan dari seorang abdi Hastinapura melalui upacara Putrotpadana oleh Vyasa. Dalam versi Jawa abdi istana itu bernama Datri. Hal ini terjadi karena Ambika – ibu Dhritarastra – dan Ambalika – ibu Pandu – menolak untuk bertemu Vyasa. Maka keduanya menyuruh seorang abdi Hastinapura menggantikan posisi mereka.

Sebagai seorang resi begawan, tentu Vyasa mengetahui rencana Ambika dan Ambalika. Namun demikian Vyasa tetap menjalankan tugasnya, sesuai permintaan Setyawati – ibu Vicitravirya, raja Hastinapura. Dari upacara Putrotpadana tersebut lahirlah Yamawidura.

Secara fisik Vidura memiliki kaki yang timpang atau pincang. Akan tetapi ia memiliki pikiran yang jujur, cerdas dan jernih. Vidura juga sangat menguasai ilmu tatanegara. Oleh karena itu Vidura diangkat menjadi jaksa di Hastinapura. Sepeninggal Pandu, takhta Hastinapura dititipkan kepada Dhritarastra. Di dalam menjalankan roda pemerintahan Dhritarastra banyak mengandalkan kebijaksanaan Vidura. Tentu hal ini berlaku sebelum Dhritarastra menyerahkan takhta Hastinapura kepada Kaurava.

Vidura begitu mencintai kedua kakaknya – Dhritarastra dan Pandu, juga kepada putra-putra mereka – para Kaurava dan Pandava. Ia senantiasa berusaha mengarahkan Kaurava ke arah hidup yang benar. Akan tetapi Kaurava lebih mendengarkan ucapan kakak iparnya – Gandari – dan Shakuni – adik Gandari. Bagi Vidura, lebih mudah menasihati Pandava daripada Kaurava.

Dalam versi Jawa, Vidura menikah dengan Padmarini. Istrinya adalah anak Dipacandra, adipati Pagombakan yang merupakan negara bawahan Hastinapura. Vidura kemudian menggantikan Dipacandra sebagai pemimpin di Pagombakan. Dari perkawinannya dengan Padmarini, Vidura mempunyai keturunan yang dinamakan Sanjaya. Akan tetapi dalam versi asli, tak ada hubungan keluarga antara Vidura dengan Sanjaya.

Vidura pernah menyelamatkan Pandava dan Kunti dalam kejadian Bale Sigala-gala. Ketika Pandava dan Kunti dijebak dalam sebuah pondok yang kemudian dibakar oleh Kaurava. Vidura telah menyiapkan lorong bawah tanah sebagai tempat pengungsian Pandava dan Kunti.

Ketika pecah Bharatayudha, Vidura meskipun tinggal di Hastinapura, tidak berpihak kepada Kaurava. Ia juga tidak berpihak kepada Pandava. Hal ini dilakukannya demi keadilan. Jauh-jauh hari sebelum perang antardarah Bharata terjadi, ia telah mengingatkan Duryodhana terus-menerus agar menyerahkan takhta Hastinapura kepada Pandava. Bagaimanapun juga Pandava sebagai putra-putra Pandu-lah yang berhak atas Hastinapura. Akan tetapi seluruh nasihat Vidura tak dihiraukan oleh Duryodhana dan tampaknya memang sudah kehendak para dewa, bahwa Bharatayudha harus terjadi.

Setalah Bharatayudha berakhir, bersama dengan Dhritarastra, Gandari, Kunti, dan Sanjaya, Vidura menyucikan diri dengan bertapa di hutan. Sampai suatu hari dari tubuh Dhritarastra muncul api penyucian yang membakar pondok dan seluruh isinya. Demikianlah akhir hidup Vidura.

Senin, 22 Desember 2008

Dhritarastra


Dhritarastra (धृतराष) disebut juga Drestarastra, Drestarastra, Destarastra, Destarata. Ia anak sulung dari Vyasa melalui upacara putrotpadana. Kedua matanya buta karena pada waktu Vyasa menggunakan kekuatan batinnya untuk membuahi Ambika, perempuan itu memejamkan mata, melihat Vyasa yang menyala-nyala matanya.

Dhritarastra tidak memiliki pendirian yang teguh. Ia mudah sekali dipengaruhi oleh orang-orang terdekat. Ia terlalu penurut pada Dewi Gandari – isterinya, juga kepada adik Gandari – Arya Shakuni. Dalam pewayangan, Shakuni adalah tokoh licik dan senang mengadu domba demi keuntungan diri sendiri. Dari pernikahan dengan Dewi Gandari, Dhristarastra memiliki seratus anak yang disebut Kaurava atau Kurawa. Anak sulungnya bernama Duryodhana dan anak terakhirnya seorang perempuan bernama Dursilavati.

Sepeninggal Pandu, takhta Hastinapura dititipkan kepada Dhritarastra. Kendali pemerintahan dipegang olehnya dibantu Arya Shakuni. Sekian lama merasakan sebagai pemimpin Hastinapura, dalam hati Dhritarastra muncul keinginan untuk mewariskan takhta Hastinapura kepada anak-anaknya – bukan kepada Pandava. Keinginan itu gayung bersambut dengan pemikiran Arya Shakuni dan Dewi Gandari. Maka dicarilah jalan untuk melanggengkan kekuasaan, termasuk usaha membunuh Pandava. Meski berbagai usaha dilakukan, Pandava senantiasa dalam perlindungan para dewa. Semua niat jahat Dhritarastra dan Kaurava tidak sampai membinasakan Pandava.

Takhta Hastinapura diberikan kepada Duryodhana, anak sulung Dhritarastra. Wali negeri Hastinapura yang buta itu kemudian mengundurkan diri bersama dengan Yamawidura – adik beda ibu – dan Dewi Gandari. Selama Bharatayudha berlangsung, Dhritarastra dapat mengikuti seluruh jalannya peperangan dari penuturan Sanjaya. Sanjaya adalah anak Yamawidura yang menjadi kusir kereta Dhritarastra dan diberi kemampuan oleh dewa untuk melihat jalannya seluruh peperangan di padang Kurusetra, Bharatayudha.

Seusai Bharatayudha dan seluruh anaknya tewas, Dhritarastra tak kuasa menahan rasa dukanya yang mendalam. Karena putra kesayangannya - Duryodhana - tewas oleh Bhima, maka muncullah niat jahat Dhritarastra kepada Bhima. Meski buta, Dhritarastra memiliki kekuatan luar biasa. Jika ia memeluk seseorang dan mengeluarkan seluruh kekuatannya, maka remuklah orang tersebut. Begitupun ketika Pandava seusai Bharatayudha hendak menghadap kepadanya selaku sesepuh Hastinapura, Dhritarastra hendak memeluk Bhima. Niat jahat tersebut terbaca oleh Khrisna. Maka titisan Vishnu itu menarik Bhima dan menggantinya dengan patung yang menyerupai Bhima. Alhasil, Dhritarastra menghancurkan patung Bhima menjadi debu. Menyadari bahwa ia keliru, Dhritarastra akhirnya menyerahkan tampuk kekuasaan Hastinapura kepada Yudhistira dan memberkati seluruh Pandava. Dia bersama dengan Dewi Gandari, Kunti, Yamawidura, dan Sanjaya mengundurkan diri ke hutan untuk bertapa. Dhritarastra ingin menebus dosa-dosanya. Mereka berlima tinggal di dalam pondok di tengah hutan.

Pada musim kemarau yang panjang, api melalap hutan, termasuk pondok di tengah hutan dan isinya. Kelima sesepuh Hastinapura itu wafat. Dalam versi India, api tersebut bukan karena kemarau panjang, melainkan berasal dari tubuh Dhritarastra sendiri.

Pandu Devanata


Alkisah Bhisma Devabrata memenangkan sayembara di negara Kasi, mengalahkan dua raksasa Wahmuka dan Arimuka. Sebagai pemenang, Bhisma berhak memboyong tiga puteri: Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk diperistri oleh raja Hastinapura – Vicitravirya.

Dewi Amba menolak karena dia merasa, bahwa Bhisma-lah yang berhak atas dirinya, bukan Citrasena. Namun karena Bhisma telah bersumpah untuk hidup selibat, maka keinginan Dewi Amba mustahil terpenuhi. Bhisma menggertak Dewi Amba dengan panah agar meninggalkannya. Namun tanpa disadari anak panah melesat dan menembus dada Dewi Amba. Sebelum perempuan itu menemui ajalnya, mengatakan supata, bahwa dia akan datang lagi menjemput Bhisma ketika terjadi Bharatayudha. Dewi Amba akan menitis dalam diri Srikandi atau Shikandi.

Sedangkan kedua puteri lainnya, Ambika dan Ambalika diperistri oleh Vicitravirya. Malang sebelum mereka memadu kasih, Citrasena wafat. Demi kelangsungan takhta Hastinapura, maka ibu suri – Setyawati – memohon kepada Vyasa agar memberi keturunan kepada Ambiki.

Vyasa semula adalah raja Hastinapura yang kemudian mengundurkan diri untuk bertapa. Vyasa yang seorang begawan bersedia memenuhi permintaan Setyawati, demi Hastinapura – bukan demi dirinya sendiri. Sebagai seorang pertapa, maka Vyasa tidak melakukan hubungan seksual. Vyasa menggunakan kekuatan batin untuk membuahi Ambiki.

Ambiki yang belum pernah mengalami malam pertama, merasa ngeri. Sehingga selama Vyasa menggunakan kekuatan batinnya, Ambiki memejamkan mata. Beberapa waktu kemudian Ambiki mengandung, namun bayi laki-laki yang dilahirkannya buta. Bayi itu diberi nama Dhritarastra.

Setyawati kurang puas dengan bayi tersebut. Maka kembali ia meminta agar Vyasa bersedia memberi keturunan – kali ini kepada Ambalika. Sama seperti Ambiki, Ambahini belum pernah mengalami malam pertama. Maka ketika bertemu dengan Vyasa, Ambahini menjadi pucat dan memalingkan muka. Ambahini mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut berwajah pucat dan kepalanya agak teleng. Karena berwajah pucat, bayi itu diberi nama Pandu (पाण्‍डु).

Meskipun Dhritarastra lebih tua, namun kepada Pandu-lah takhta Hastinapura diberikan. Kebutaan Dhritarastra itulah yang menjadi alasan mengapa ia tidak berhak atas Hastinapura.

Pandu – yang berwajah pucat – memiliki hampir semua keutamaan ksatria. Ia berjuang demi kebenaran. Pandu memiliki sifat arif dan bijaksana. Pandu Devanata menikahi Kunti dan Madri. Karena melakukan satu kesalahan, yaitu memanah rusa yang sedang berkasih-kasihan, Pandu dikutuk tidak akan memiliki anak. Rusa tersebut sebenarnya adalah penjelmaan seorang resi.

Agar kelangsungan keluarga Hastinapura terjamin, maka kemudian Kunti dan Madri memohon kepada dewa agar diberi keturunan. Dari rahim Kunti lahirlah Yudhistira, Bhima, dan Arjuna. Yudhistira adalah titisan Batara Dharma, Bhima titisan Batara Bayu, dan Arjuna titisa Batara Indra. Sedangkan dari rahim Madri lahirlah kembar Nakula dan Sadeva. Keduanya adalah titisan Batara Aswin. Kelima putra Pandu disebut Pandava.

Dalam versi Jawa, Pandu kemudian diadu domba oleh Shakuni - adik Dewi Gandari, istri Dhritarastra. Pandu bertempur melawan muridnya sendiri, raja raksasa dari Pringgadani - Prabu Tremboko. Tremboko tewas oleh panah Pandu, namun Pandu terluka oleh keris Kalanadah. Luka tersebut mengakibatkan kematiannya. Madri – sesuai dengan tradisi – ikut menceburkan diri ke dalam api yang menghanguskan jasad Pandu dalam upacara sati. Oleh para dewa kemudian Pandu dijadikan sebagai dewa pula.

Dalam versi India Pandu moksa, yakni lenyap dari dunia bersama seluruh raganya. Sedangkan jiwanya masuk ke dalam neraka sesuai perjanjian. Namun atas perjuangan Bhima, Pandu akhirnya jiwa Pandu masuk ke surga. Versi lainnya mengatakan, jiwa Pandu tetap berada di neraka asalkan seluruh anak-anaknya selamat.

Kunti, semestinya sebagai seorang istri, juga ikut membakar dirinya. Namun Kunti berpikir, bahwa harus ada yang mengasuh kelima putra Pandu. Maka ia tidak ikut membakar diri demi kelangsungan hidup keturunan Pandu.

Senin, 25 Agustus 2008

Baladewa


Baladewa atau Baladeva (बलदोव) disebut juga Balarama, Balabhadra, Halayudha, Wasi Jaladara, Begawan Kusuma Walikita, Begawan Curiganata, Kakrasana. Wujud Baladewa adalah kebalikan Krishna, adiknya. Baladewa berkulit pucat/putih, sifatnya mudah meledak-ledak, berangasan, namun mudah luluh pula hatinya. Raja Mathura ini mudah terpengaruh oleh Kurawa. Oleh karena itu, sebelum Bharatayudha ia dibujuk oleh Krishna agar bertapa di Grojogan Sewu hingga perang usai.
Baladewa adalah kakak kandung Krishna, berasal dari Vasudeva dan Devaki. Akan tetapi untuk mencegah berlakunya ramalan, bahwa ia akan dibunuh Kamsa (Kangsa), maka dengan kemampuan pemindahan janin Baladewa dipindah dari rahim Devaki ke dalam rahim Rohini. Karena peristiwa ini, maka Baladewa juga dikenal dengan nama Sankarsana yang artinya "pemindahan janin". Dalam ramalan dikatakan, bahwa Kamsa (kakak Devaki) akan terbunuh oleh anak kedelapan Devaki. Maka Devaki dipenjarakan oleh Kamsa. Ketika lahir keenam anak Devaki mati dibunuh oleh Kamsa. Untuk menyelamatkan Baladewa, maka terjadilah pemindahan janin tersebut. Baladewa dibesarkan oleh Rohini. Ia tumbuh bersama dengan Krishna sebagai penggembala ternak sapi. Kelak Krishna - anak kedelapan Devaki - akan membinasakan Kamsa, sesuai dengan ramalan.
Baladewa pernah menjadi guru bagi Bhima dan Duryodhana dalam menggunakan senjata gada. Kedua murid itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Bhima memiliki kekuatan, sedangkan Duryodhana memiliki kelincahan dalam menggunakan gada. Duryodhana adalah murid kesayangan Baladewa. Namun dalam Bharatayudha Duryodhana berhasil dikalahkan oleh Bhima dengan memukul paha Duryodhana. Kematian Duryodhana membuat Baladewa marah dan ingin membunuh Bhima. Hasrat itu dapat dicegah oleh Krishna yang bijaksana.
Baladewa menikah dengan Rewati, anak Raiwata dari Anarta. Versi lain mengatakan ia menikahi Erawati, anak Salya dari Mandaraka. Dari pernikahan itu, Baladewa berputra dua yaitu Wisata dan Wimuka.
Baladewa memiliki senjata andalan berupa gada Alugara dan senjata Nanggala. Keduanya adalah pemberian Batara Brahma.
Kematian Baladewa dikisahkan dalam Bhagavatapurana. Ia wafat setelah perang yang menghancurkan wangsa Yadu dan setelah melihat Krishna moksha. Baladewa bermeditasi di bawah pohon seperti Krishna. Lantas dari mulut Baladewa keluar ular putih bernama Sesa, yang kemudian membawa jasad Baladewa ke nirvana.

Rabu, 20 Agustus 2008

Krishna


Titisan Vishnu yang datang ke dunia. Ia adalah avatar - Tuhan atau dewa yang turun ke dunia - ke-22 dari 24 avatar menurut kepercayaan Hindu. Krishna (कृष्ण) - di samping Pandawa - adalah tokoh yang menjadi titik pusat dalam epos Mahabharata. Krishna adalah pujaan bangsa India.
Sosoknya digambarkan berkulit gelap. Sifatnya ceria, bijaksana, cerdik, dan berbelas kasih. Namun demikian jika marah, maka Krishna dapat bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Kemarahannya adalah untuk menghancurkan angkara murka di dunia dan jagad raya. Kisah yang menceritakan Krishna berubah menjadi raksasa adalah Lakon Kresna Duta.
Bernama Janmasthami ketika dilahirkan dan diberi nama Narayan atau Narayana ketika muda. Putra dari Vasudeva atau Basudewa, raja Mathura (Mandura). Ibunya bernama Devaki (Dewani). Berdasarkan Kitab Baghavata Purana, Krishna tidak dilahirkan dari hubungan seksual. Ia dilahirkan dalam rahim Devaki karena transfer/transmisi pikiran/jiwa Vasudeva.
Krishna adalah penegak kebenaran dan keadilan. Ia memiliki senjata pusaka bernama Cakra. Pusaka lainnya adalah bunga Wijaya Kusuma yang mampu menghidupkan kembali orang yang meninggal. Krishna juga mampu menggandakan dirinya menjadi ribuan.
Setelah dewasa, Krishna menjadi raja di Dvaraka (Dwarawati), saat ini letak Dvaraka kira-kira di Gujarat (India). Ia raja yang sangat dihormati oleh kawan dan lawan. Pihak Pandawa menjadikannya penasihat utama. Sedangkan Kurawa selalu berusaha menjauhkan Pandawa dari Krishna karena mereka tahu, bahwa hanya dengan bantuan Krishna Pandawa dapat unggul dalam Bharatayudha.
Krishna memiliki banyak nama alias, seperti: Mahāyogi, Purushottama, Varshneya, Vāsudeva, Vishnu, Yādava, Yogesvara, Achyuta, Arisudana, Bhagavān, Gopāla, Govinda, Hrishikesa, Janardana, Kesava, Kesinishūdana, Mādhava, Madhusūdana, Mahābāhu.
Krishna bagi umat Hindu memiliki kedudukan yang hampir mirip dengan Yesus pada umat Kristen. Krishna adalah juru selamat manusia (Janardana).
Kisah Krishna paling menarik dan banyak dikaji adalah dalam Bhagavad Gita - di mana ia terlibat percakapan fisik dan batin tingkat tinggi dengan Arjuna. Krishna-Arjuna pada dasarnya adalah satu jiwa dalam dua personifikasi.
Dalam Bharatayudha, Krishna menjadi sais atau kusir kereta perang Arjuna. Seusai Bharatayudha, musnahlah seluruh wangsa Wresni dan Yadawa. Maka Krishna memutuskan diri untuk moksha dengan perantaraan anak panah yang dilepaskan pemburu bernama Jara yang mengenai telapak kakinya.

Senin, 11 Agustus 2008

Nakula dan Sadewa



Nakula (नकुल) dan Sadewa (सहदेव) adalah anak Pandu dari Madri. Kedua putra Pandu ini kembar. Dalam versi Jawa, Nakula dan Sadewa selalu tampil mendampingi Yudhistira.
Nakula memiliki nama lain Tripala atau Pinten, sedangkan Sadewa dikenal pula dengan sebutan Sahadewa, Sahadeva, Darmaganti atau Tangsen. Nakula mempunyai istri Dewi Soka, Sadewa beristri Dewi Padapa. Dibanding dengan Sadewa, kisah Nakula tidak begitu banyak dituturkan dalam lakon wayang. Sedangkan lakon dengan tokoh Sadewa dapat dijumpai ketika Sadewa meruwat Batari Durga menjadi dewi cantik bernama Dewi Uma. Kisah ini diceritakan dalam Lakon Sudamala.
Bagi masyarakat Jawa, Nakula dan Sadewa menjadi simbol keseimbangan. Anak-anak yang dilahirkan kembar, diharap memiliki keutamaan hidup seperti Nakula dan Sadewa.
Dalam perjalanan terakhir menuju puncak Mahameru, Nakula tewas karena meminum air dari telaga larangan. Ketika itu Nakula bermaksud mencarikan air minum bagi Yudhistira yang kehausan. Sedangkan Sadewa tewas terjatuh ke jurang pada waktu akan mencapai puncak Mahameru.