Minggu, 26 Juni 2011

Togog



Togog, semula bernama Batara Antaga, salah satu dari tiga cucu Sanghyang Wenang. Dua cucu lainnya adalah Batara Ismaya yang nantinya menjadi Semar dan Batara Manikmaya yang nantinya menjadi Batara Guru. Karena mereka beradu kesaktian maka terjadilah hal yang mengubah wujud Batara Antaga dan Batara Ismaya.

Kejadiannya bermula dari keinginan untuk menunjukkan siapa di antara mereka bertiga yang paling unggul. Maka diadakanlah sayembara untuk menelan Gunung Jamurdipa. Sebagai yang sulung, Batara Antaga mendapat giliran pertama. Dia berusaha menelan Gunung Jamurdipa bulat-bulat yang mengakibatkan robek pada mulutnya. Matanya juga menjadi melotot karena dia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menelan Gunung Jamurdipa.

Apa daya, gunung tetap tegak berdiri. Batara Antaga menyesal karena wajahnya yang semula rupawan, kini menjadi buruk rupa. Oleh Sanghyang Wenang dia diperintahkan turun ke marcapada untuk menjadi panakawan para raja seberang lautan, yaitu mereka yang memiliki watak jahat dan angkara murka. Jadi Togog tidak hanya mengabdi pada satu orang, melainkan berganti-ganti. Bila direnungkan lebih jauh, tugas Togog adalah mulia karena dia berusaha mengingatkan para raja itu untuk kembali kepada keutamaan sebagai manusia. Hanya sayang sekali peringatan yang diberikannya sering tidak diindahkan.
Togog memiliki nama lain yaitu Tejamantri atau Wijamantri.

Sabtu, 25 Juni 2011

Petruk




Di dalam pewayangan Indonesia, khususnya Jawa, Petruk mempunyai nama lain, yaitu Tongtongsot, Suragendila, Surajenggala, Dubla Jaya, Jengglong Jaya, Penthung Pinanggul, Ronggangjiwan, Kantongbolong, Kyai Supatra, Kebo Debleng, dan Prabu Belgeduwel Beh (ada juga yang menyebut Welgeduwel Beh). Sedangkan dalam pewayangan Sunda, Petruk dikenal sebagai Dawala atau Udel.

Menurut pewayangan Jawa, Petruk semula bernama Bambang Penyukilan, anak dari Begawan Rajaswala atau disebut juga Begawan Selantara di Padepokan Kembangsore. Bambang Penyukilan memiliki wajah tampan dan tubuh sempurna. Bagaimana dia kemudian menjadi Petruk yang berhidung panjang, kurus berperut buncit, berlengan dan berkaki panjang, adalah karena disabda oleh Batara Ismaya (baca kisahnya dalam entri Gareng).

Petruk memiliki sifat periang, senang bernyanyi, lucu, dan setia kepada tuannya. Dia adalah pengasuh Abimanyu, putra Arjuna. Tokoh Petruk sering muncul dalam lakon carangan misalnya dalam "Petruk Dadi Ratu", dia tampil sebagai Prabu Belgeduwel Beh, penguasa negeri Lojitengara. Sebagai Prabu Belgeduwel Beh, Petruk memorakporandakan banyak negeri terutama Amartapura. Dia juga berhasil mencuri pusaka Yudhistira, yaitu Jamus Kalimasada.

Sebagai Prabu Belgeduwel Beh, Petruk berhasil mengalahkan Prabu Pandu Pragolamanik dari negeri Trancanggribig atau Parang Gumiwang yang tak lain adalah Gareng. Lantas Prabu Belgeduwel Beh sendiri berhasil dikalahkan oleh Bagong. Prabu Belgeduwel Beh kembali ke bentuk semula sebagai Petruk.

Petruk mempunyai istri bernama Dewi Ambarawati atau Dewi Wrantawati, putri Prabu Ambaraja di negeri Pandansurat. Petruk memiliki Dewi Ambarawati setelah memenangkan sayembara pinangan mengalahkan pelamar lainnya. Dewi Ambarawati diboyong ke Girisarangan dan yang bertindak sebagai wali perkawinan mereka adalah Resi Parikenan. Dari perkawinannya dengan Dewi Ambarawati, Petruk mempunyai seorang anak yaitu Lengkung Kusuma.

Bentuk tubuh Petruk yang serba panjang melambangkan kehidupan yang serba "momot-kamot ing kawruh" atau mampu menerima segala pengetahuan dengan baik. Nama Kantongbolong yang diberikan kepadanya bermakna keikhlasan, siap menerima pengetahuan yang baik dan selalu siap untuk membagikannya kepada orang lain.

Gareng


Bentuk hidung membulat, mata juling, lengan bengkok, kaki pincang, perut buncit. Demikianlah penampilan Gareng atau Nala Gareng. Sama seperti tokoh Panakawan lainnya, Gareng hanya dijumpai dalam khazanah pewayangan Indonesia. Kisah Mahabharata versi India tidak memuat perihal Gareng. Hal ini menunjukkan tingginya daya kreativitas para seniman wayang Indonesia, khususnya Jawa, untuk membumikan kisah dari negeri seberang. Di dalam berbagai kisah, Gareng disebut sebagai anak Semar. Akan tetapi siapakah Gareng sebenarnya?

Adalah sebuah padepokan yang bernama Padepokan Bluluktiba. Pemilik padepokan adalah Resi Sukskadi, seorang brahmana. Resi Sukskadi memiliki seorang anak bernama Bambang Sukskati. Putra tunggal Resi Sukskadi ini memiliki paras wajah yang cukup menawan dan tubuh yang sentosa. Suatu ketika Bambang Sukskati memohon ijin ayahnya untuk pergi bertapa di bukit Candala.

Selesai bertapa, Bambang Sukskati berpamitan pada ayahnya untuk pergi mengembara. Merasa telah memiliki ilmu kesaktian tanpa tanding, Bambang Sukskati menaklukkan banyak ksatria dan raja-raja. Karena Bambang Sukskati memang berilmu tinggi, maka dengan mudah dia mengalahkan semua lawan-lawannya. Kemenangan demi kemenangan membuat dia membusungkan dada, menyombongkan dirinya.

Di dalam perjalanan dia berjumpa dengan Bambang Penyukilan, anak seorang pendeta gandarwa bernama Begawan Selantara yang memiliki padepokan di Kembangsore. Sama seperti Bambang Sukskati, Bambang Penyukilan juga memiliki sifat congkak karena berilmu tinggi.

Perjumpaan keduanya menimbulkan sengketa karena masing-masing merasa sebagai orang paling sakti. Mereka bergelut selama lima hari lima malam dan masing-masing belum menunjukkan tanda-tanda untuk menyerah. Kesaktian keduanya setara. Akibat perkelahian mereka, terjadi kerusakan di banyak tempat di bumi.

Perkelahian antara Bambang Sukskati dan Bambang Penyukilan mengundang perhatian Batara Ismaya. Keduanya dinasihati oleh Batara Ismaya untuk menghentikan perkelahian karena perkelahian mengakibatkan kebencian dan dendam, yang merupakan kejelekan hidup yang harus dihindari. Sayang sekali baik Bambang Sukskati maupun Bambang Penyukilan tidak menggubris nasihat Batara Ismaya. Keduanya ingin melanjutkan perkelahian hingga diketahui siapa yang paling unggul di antara mereka.

Melihat sikap keduanya Batara Ismaya bersabda, bahwa kesombongan, kecongkakan adalah suatu kejelekan. Selesai bersabda demikian, tubuh Bambang Sukskati dan Bambang Penyukilan berubah. Wajah mereka yang semula tampan, menjadi buruk rupa. Keduanya mengakui kesalahan dan mengakui bahwa ilmu kesaktian mereka belum sebanding dengan kesaktian Batara Ismaya. Oleh Batara Ismaya, Bambang Sukskati diberi nama Nala Gareng, sedangkan Bambang Penyukilan diberi nama Petruk. Pada saat itu juga datanglah Resi Sukskadi dan Begawan Selantara. Mereka memohonkan ampun atas kesalahan anak-anak mereka. Mereka sepakat untuk menyerahkan anak mereka kepada Batara Ismaya. Akhirnya kedua anak itu diangkat sebagai anak oleh Batara Ismaya atau Semar.

Nala Gareng memiliki nama sebutan lain, yaitu Cakrawangsa, Pegatwaja, Pancalpamor, Pandu Pragolamanik, Pandu Bergola, dan Bambang Jati Pitutur. Nama Pancalpamor bermakna menolak gemerlapnya duniawi. Pegatwaja bermakna menghindari makanan yang tidak pantas untuk dimakan. Nala Gareng sendiri bermakna "hati yang kering" artinya hati yang telah mampu melepaskan segala keinginan duniawi. Nala, hati; Gareng, garing.

Gareng di dalam lakon carangan tampil sebagai seorang raja bernama Pandu Pragolamanik atau Pandu Bergola. Dia menguasai sebuah kerajaan bernama Parang Gumiwang. Sebagai Pandu Pragolamanik, Gareng mengalahkan semua raja-raja dan bermaksud menguasai Amartapura. Tentu saja dia harus berhadapan dengan Pandawa. Gareng berhasil mengalahkan kelima Pandawa dengan mudah.

Munculnya Prabu Pandu Pragolamanik atau Pandu Bergola ini membuat suasana gempar di marcapada. Di lain pihak Semar, Petruk, dan Bagong kebingungan karena Gareng pergi tanpa pamit. Keberadaan Gareng tidak diketahui. Beruntung Pandawa mempunyai seorang penasihat utama, Sri Batara Krishna. Krishna menyarankan kepada Semar, bila ingin bertemu dengan Gareng, dia harus merelakan Petruk melawan Prabu Pandu Pragolamanik. Mendengar saran Krishna, Semar cepat tanggap dan paham benar apa yang dimaksud oleh penasihat Pandawa itu. Sebaliknya Petruk menjadi gamang karena dia telah mendengar kesaktian Prabu Pandu Pragolamanik.

Melihat Petruk gamang, Semar membisikkan sesuatu ke telinga Petruk. Akhirnya Petruk menyanggupi untuk berhadapan dengan Prabu Pandu Pragolamanik. Pada waktu Petruk bertemu dengan Prabu Pandu Pragolamanik, penguasa Parang Gumiwang ini selalu menghindari tatapan mata Petruk, entah dengan cara membelakangi, entah dengan menundukkan kepala. Keduanya terlibat perkelahian seru, hingga akhirnya Prabu Pandu Pragolamanik berubah wujud kembali menjadi Gareng.

Tujuan Gareng menjadi raja dan menyerang Amartapura adalah untuk mengingatkan para Pandawa agar tidak melalaikan dharma mereka sebagai ksatria dan raja dalam menyejahterakan rakyat, menjaga keamanan negara dan bangsa. Jangan karena negara telah mencapai kemakmuran, lantas melalaikan kewajiban menjaga keamanan negara dan bangsa.

Gareng memiliki sifat periang, suka bercanda, dan setia kepada tuannya. Dia memiliki seorang isteri bernama Dewi Sariwati, putri Prabu Surawasesa dan Dewi Saradewati dari negeri Selarengka.

Mata Gareng yang juling melambangkan telah lenyapnya keinginan untuk memiliki kepunyaan orang lain, lengan yang bengkok melambangkan lenyapnya keinginan untuk mengambil hak orang lain, dan kaki yang pincang melambangkan kehati-hatian di dalam mengambil tindakan.

Minggu, 01 Februari 2009

Bagong



Sama seperti Semar, tokoh Bagong tidak akan dijumpai dalam versi pewayangan India. Bahkan di Jawa pun, tokoh Bagong tidak akan ditemui dalam pewayangan gaya Surakarta yang asli. Hal ini dapat diketahui dari berbagai serat pedalangan gaya Surakarta yang menyebutkan, bahwa pengiring para ksatria pembela kebenaran adalah Semar, Nala Gareng, dan Petruk. Tidak disebut nama Bagong di dalamnya. Bagong ditemui dalam pewayangan gaya Yogyakarta. Namun karena perkembangan zaman, tokoh Bagong kini pun dimainkan juga dalam pewayangan gaya Surakarta. Di dalam pewayangan gaya Banyumas, Bagong disebut Bawor. Sedangkan di Sunda, Bagong disebut dengan nama Astrajingga, Carub, Cepot, Kacepot, atau Kacipot.

Siapakah Bagong? Menurut cerita, setelah Ismaya menyedot gunung dan turun ke marcapada, ia kebingungan karena tidak punya teman. Maka ia memohon kepada Sang Hyang Tunggal seorang teman. Oleh Sang Hyang Tunggal, Ismaya disuruh melihat apa yang ada di belakangnya. Di depan Sang Hyang Tunggal yang bercahaya benderang itu, Ismaya menoleh ke belakang. Ia hanya melihat bayang-bayang dirinya. Maka Ismaya berkata, bahwa ia hanya melihat bayang-bayang.

Sang Hyang Tunggal bertitah, bahwa bayang-bayang itulah yang akan menemani Semar selama mengembara di dunia. Sekejap itu juga bayang-bayang Ismaya menjadi timbul, bergerak, dan akhirnya menjadi sosok yang hampir mirip dengan dirinya. Berbadan bulat dan gemuk. Namun demikian ada juga bedanya. Jika Semar bermata sipit berair, Bagong bermata lebar. Hal ini terjadi karena pada waktu memperhatikan bayang-bayang dirinya sendiri, Semar melotot untuk memastikan ia tidak salah lihat. Kemudian mulut Bagong juga lebih menggantung (Jawa = ndomblé) karena ketika melihat bayang-bayang dirinya, Semar mencebikkan bibir bawahnya, menyangsikan ucapan Sang Hyang Tunggal.

Bayang-bayang Semar yang menjelma menjadi sosok manusia itu kemudian diberi nama Bagong, berasal dari kata mbokong (menoleh ke arah belakang/bokong). Oleh Semar, Bagong diaku sebagai anaknya. Jika demikian, dapat disimpulkan bahwa Bagong adalah “anak sulung” Semar di marcapada. Kedua anak Semar lainnya adalah Nala Gareng dan Petruk. Akan tetapi yang umum dikisahkan di pewayangan, Bagong adalah anak bungsu dan Nala Gareng sebagai yang sulung.

Bagong memiliki sifat jenaka, usil, kekanak-kanakan dalam arti polos-jujur-apa adanya, dan pandai menarik perhatian para ksatria yang dilayaninya. Di dalam lakon pewayangan carangan, Bagong pernah menjadi raja dengan nama Prabu Pacekol atau Patakol atau Jayapetakol. Dikisahkan Bagong merasa sedih dan berjalan tak tentu arah. Drupadi istri Yudhistira melihat kesedihan Bagong. Maka Drupadi menanyai sebab musabab kesedihan Bagong. Mendengar penuturan abdi Pandava itu, maka Drupadi lantas meminjamkan pusaka Yudhistira kepadanya. Bagong bersalin rupa dan mengambil nama diri Prabu Pacekol. Berbekal pusaka Jimat Kalimasada, Bagong meminjam takhta Drupada raja Pancala yang juga ayah Drupadi. Jika Drupada menolak, akan dibunuhnya. Terjadilah huru-hara. Prabu Pacekol akhirnya bisa dikalahkan oleh Nala Gareng dan Petruk, berubah wujud kembali menjadi Bagong.

Bagong mempunyai istri Dewi Baganawati, seorang anak raja gandarva - Prabu Balyan dari kerajaan Pucangsewu.

Semar



Tokoh Semar dan panakawan lain adalah khas wayang Nusantara – khususnya Jawa-Sunda, tidak akan dijumpai dalam wayang versi aslinya – India. Di mata orang Jawa, Semar adalah dewa yang menjelma menjadi manusia. Semar adalah manusia-dewa, dewa-manusia.

Berdasarkan Serat Paramayoga, Sang Hyang Tunggal mempunyai putra bernama Ismaya yang dilahirkan dari rahim Dewi Rakti. Oleh Hyang Tunggal, Ismaya diberi wewenang untuk menguasai Sunyaruri dan memperistri Dewi Senggani – anak dari Sang Hyang Ening. Adapun Sang Hyang Ening dan Sang Hyang Tunggal berasal dari sumber yang sama, Sang Hyang Wenang.

Dari perkawinannya dengan Dewi Senggani, Sang Hyang Ismaya memiliki sepuluh putra, yaitu Sang Hyang Wungkuhan (Bongkotan), Sang Hyang Siwah, Sang Hyang Wrehaspati, Sang Hyang Yamadipati, Sang Hyang Surya, Sang Hyang Candra, Sang Hyang Kuwera, Sang Hyang Temburu (Temboro), Sang Hyang Kamajaya, dan Dewi Sarmanasiti (Darmanastiti).

Menurut versi pedalangan lain, Sang Hyang Ismaya dilahirkan oleh Dewi Rekathawati, putri Prabu Rekathatama – raja jin di samudera kahyangan. Kemudian Ismaya diberi kuasa di Tejamaya dan menikah dengan Dewi Kanastri (Kanastren atau Sinduragen). Dari Dewi Kanastri Ismaya memiliki sepuluh anak, 9 laki-laki dan 1 perempuan.

Versi lain lagi menyebutkan, bahwa Semar berasal dari putih telur. Konon sebelum dunia dijadikan, Sang Hyang Tunggal mempunyai sebutir telur. Bagian kulit luar menjelma menjadi Tejamaya, putih telur menjelma menjadi Ismaya, dan kuning telur menjelma menjadi Manikmaya. Ketiga putra dewa yang sangat rupawan ini saling berebut perhatian dari Sang Hyang Wenang. Oleh karena itu mereka berusaha menunjukkan diri sebagai yang paling sakti mandraguna.

Maka diadakanlah sayembara untuk menjadi yang terhebat. Isi sayembara adalah siapa yang dapat menelan gunung, dialah yang paling sakti. Mereka mencari gunung terbesar di semesta. Sebagai yang sulung, Tejamaya mendapat giliran yang pertama. Tejamaya membuka mulutnya lebar-lebar agar bisa menelan gunung. Karena usahanya terlalu keras, sudut-sudut mulutnya robek dan gunung tidak tertelan jua. Mulut yang robek melebar dan tidak bisa utuh kembali itu membuat wajah Tejamaya yang tampan menjadi sirna. Menangislah Tejamaya.

Melihat kakaknya gagal, Ismaya menggunakan cara lain. Ia berusaha menyedot gunung sedikit demi sedikit. Usaha itu berhasil. Selama menyedot gunung, Ismaya mengeluarkan seluruh kesaktiannya. Ia mencoba menahan rasa sakit karena batu-batu gunung melewati kerongkongannya. Lambat laun Gunung raksasa telah berpindah ke dalam perutnya. Namun akibatnya wajah Ismaya yang tampan menjadi buruk, matanya rembes berair. Tidak hanya itu, perutnya juga membesar. Sama seperti Tejamaya, Ismaya menyesal dan menangis.

Rupanya tangis Tejamaya dan Ismaya terdengar oleh Sang Hyang Tunggal. Maka keduanya mendapat teguran keras. Sebagai hukuman, Tejamaya dan Ismaya disuruh turun ke marcapada atau dunia. Mereka harus menjadi abdi bagi kebenaran. Tejamaya yang juga disebut Tejamantri mengabdi kepada para raja atau ksatria yang tidak lurus hati menurut pandangan dunia batin Jawa. Tejamantri harus mengingatkan mereka untuk kembali kepada kebenaran. Ismaya mengabdi kepada para raja atau ksatria yang lurus hati seperti Pandava, misalnya.

Sedangkan Manikmaya yang tidak mendapat giliran menelan gunung diberi kepercayaan oleh Sang Hyang Wenang untuk memimpin para dewa di kahyangan. Manikmaya kemudian dikenal sebagai Batara Guru. Sementara Tejamaya setelah menjadi abdi, biasa disebut sebagai Togog.

Ismaya sendiri memiliki nama lain selain Semar, yaitu Badranaya, Janggan Asmarasanta, Sang Dyah Juru Puntaprasanta, Nayantaka, dan Duda Manangmunung. Tempat tinggalnya di marcapada disebut Padepokan Klampis Ireng atau Karang Kadempel atau Karang Kabulutan.

Oleh masyarakat Jawa Semar digambarkan memiliki sifat baik: cerdas, sabar, senantiasa memberi nasihat, suka bercanda. Namun sebaliknya Semar pada waktu marah, tak ada raja, ksatria, maupun dewa yang dapat mengalahkannya. Ia memiliki senjata berupa kentut.

Nama Semar sendiri mengandung arti “tidak dapat diungkapkan dengan jelas”, samar. Semar, samar, samar-samar. Bentuk tubuh Semar dalam wayang kulit terlihat sebagai laki-laki yang berpayudara besar, berperut buncit seperti perempuan mengandung, dan berpantat besar. Bagi masyarakat Jawa, Semar itu ora lanang ora wadon, bukan laki-laki bukan perempuan. Tidak jelas, samar-samar. Inilah keunikan Semar sebagai simbol dewa yang menjelma menjadi manusia.

Minggu, 04 Januari 2009

Shalya


Shalya (शल्‍य) atau Salya atau Salyapati putra Artayana, raja Madra. Dalam versi Jawa, Shalya pada masa muda bernama Narasoma. Shalya mempunyai adik perempuan bernama Madri – yang kelak menjadi ibu Nakula dan Sadeva. Ketika dewasa ia diminta oleh Artayana untuk menikah. Namun permintaan sang ayah tak dihiraukannya. Shalya pergi dari istana dan mengembara.

Dalam pengembaraan itu Shalya berjumpa dengan seorang brahmana raksasa bernama Bagaspati. Resi Bagaspati menceritakan, bahwa putrinya bermimpi jatuh cinta dan menikah dengan Shalya. Bagaspati bermaksud menjadikan Shalya sebagai menantunya. Lantaran mengira Pujawati – anak Resi Bagaspati – juga berwajah raksasa, maka Shalya menolak. Akibatnya terjadilah pertarungan antara Shalya dengan Resi Bagaspati.

Shalya tidak mampu menandingi kesaktian Bagaspati. Maka takluklah ia kepada resi raksasa itu. Setelah berjumpa dengan Pujawati, Shalya berubah pikiran melihat kecantikan anak Resi Bagaspati itu dan ia jatuh hati. Keduanya pun kemudian menikah. Meski demikian Shalya merasa tidak bangga karena memiliki mertua berwajah raksasa.

Perasaan Shalya ini disampaikan Pujawati kepada ayahnya. Resi Bagaspati kemudian menantang Pujawati agar memilih dirinya sebagai ayah atau Shalya sebagai suami. Sebuah pilihan yang tidak mudah. Namun demikian Pujawati akhirnya memilih Shalya. Hal ini membuat Bagaspati merasa bangga karena memiliki putri yang setia. Maka Bagaspati mengubah nama Pujawati menjadi Setyawati.

Resi Bagaspati juga merelakan dirinya dibunuh oleh Shalya agar tidak mengganggu pikirannya. Meski demikian tak satupun senjata Shalya yang dapat melukai tubuh Bagaspati. Demi melihat mertuanya tidak juga binasa, maka Shalya memohon agar Resi Bagaspati melepaskan seluruh ilmu kesaktiannya. Resi Bagaspati menyanggupi untuk melepaskan Rudrarohastra (dalam versi Jawa Ajian Candabhirawa) dan mewariskannya kepada Shalya.

Setelah ilmu kesaktian itu beralih wadah, dengan mudah Shalya membunuh sang resi dengan cara menusuk siku Resi Bagaspati. Shalya kemudian memboyong Setyawati ke Madra untuk diperkenalkan kepada ayahnya.

Raja Artayana gembira melihat anaknya membawa Setyawati. Akan tetapi kegembiraan itu tak berlangsung lama setelah mengetahui, bahwa Shalya membunuh Resi Bagaspati. Ternyata Artayana dengan Resi Bagaspati adalah dua sahabat karib. Karena membunuh sahabatnya, maka Shalya diusir oleh Artayana dari istana. Shalya bersama Setyawati pergi meninggalkan Madra. Madri yang belum hilang rasa rindunya, bergegas pergi menyusul kakaknya.

Dalam pengembaraan, Shalya tiba di kerajaan Mathura atau Mandura. Di tempat itu sedang diadakan sayembara dengan hadiah putri raja bernama Kunti. Shalya mengikuti sayembara itu dengan maksud untuk menguji Ajian Candabhirawa, bukan untuk meminang Kunti. Ia berhasil mengalahkan semua raja dan ksatria yang mengikuti sayembara, kecuali Pandu. Ajian Candabhirawa yang dimilikinya berhasil dipunahkan oleh Pandu. Sebagai tanda takluk Shalya menyerahkan adiknya, Madri, kepada Pandu.

Saat masih di dalam pengembaraan, Shalya mendengar berita kalau ayahnya wafat. Artayana begitu sedih karena kehilangan sahabatnya, juga karena merasa gagal menjadi ayah yang baik dan tidak bisa mendidik anak. Artayana kemudian mengakhiri hidupnya sendiri. Shalya kembali ke Madra dan menjadi raja menggantikan ayahnya.

Dari perkawinannya dengan Setyawati, Shalya memiliki lima orang anak, yaitu Erawati, Surtikanti, Banowati, Burisrawa, dan Rukmarata. Sedangkan menurut versi India, Shalya hanya memiliki dua anak yaitu Rukmarata dan Rukmanggada.

Salah satu sifat buruk Shalya adalah tinggi hati. Kesombongannya ditunjukkan dengan menerima lamaran Duryodhana atas Erawati. Ia merasa mendapat kehormatan karena menantunya adalah raja kerajaan terbesar di dunia. Tanpa pikir panjang lamaran itu diterima. Namun garis dewata berkata lain. Erawati hilang diculik oleh Kartapiyoga dari Girikadasar.

Atas bantuan Baladeva, Erawati berhasil diselamatkan. Menurut perjanjian seharusnya Erawati diserahkan kepada orang yang berhasil menyelamatkannya. Namun Shalya hendak mengingkari janji karena melihat Baladeva dalam sosok seorang pendeta. Baru setelah Shalya tahu kalau Baladeva adalah raja Mathura, Erawati diserahkannya.

Lamaran Duryodhana datang kedua kalinya. Kali ini Surtikanti yang hendak diberikannya. Akan tetapi Surtikanti diculik dan diperistri oleh Karna, adipati dari Awangga. Melihat bahwa yang menculik dan mengawini Surtikanti adalah Karna, Duryodhana merelakannya karena ia merasa berhutang budi kepada putra Batara Surya itu. Kelanjutannya, Duryodhana kemudian menikahi Banowati.

Menjelang pecahnya Bharatayudha, Shalya berniat berpihak kepada Pandava. Akan tetapi karena tipu muslihat Kaurava, terpaksa Shalya mengalihkan dukungannya kepada Kaurava. Meski demikian Shalya memberikan doa dan berkatnya untuk kemenangan Pandava. Hal ini tertulis dalam Udyogaparva.

Ketika pecah Bharatayudha, Shalya menjadi kusir bagi kereta perang Karna. Ia berhadap-hadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan Krishna sebagai kusirnya. Karena sebenarnya hatinya untuk Pandava, maka Shalya tidak sepenuh hati mengusiri kereta Karna. Dalam pertempuran itu Karna tewas oleh panah Arjuna.

Setelah Karna tewas, Shalya menjadi panglima perang pihak Kaurava pada hari berikutnya.

Di dalam perang Shalya menggunakan Ajian Candabhirawa. Tak satupun dari pasukan Pandava yang dapat bertahan. Ajian itu berupa raksasa bajang yang jika dilukai, darahnya akan menjelma menjadi raksasa bajang lainnya. Setiap percikan darah menjadi satu raksasa. Maka pasukan raksasa bajang itu kemudian menguasai medan Kurusetra.

Krishna menyuruh Nakula untuk menghadapi Shalya. Melihat yang datang menemuinya adalah keponakannya, Shalya tidak sampai hati dan ia tahu ini adalah muslihat Krishna. Raja kerajaan Madra itu kemudian memberi tahu, kalau orang yang dapat membunuhnya adalah seorang yang memiliki hati bersih, jujur, lurus – sebagai tandingan atas kesombongan dirinya.

Maka Krishna kemudian meminta Yudhistira untuk maju melawan Shalya. Putra sulung Pandu itupun maju ke pertempuran. Ajian Candabhirawa yang digunakan oleh Shalya tidak mampu mengalahkannya. Bahkan raksasa-raksasa bajang itu berbalik mengabdi kepada Yudhistira. Pada saat itu Yudhistira menggunakan pusaka Jamus Kalimasada untuk mengakhiri hidup Shalya. Dalam versi India, Shalya gugur karena panah yang dilepaskan oleh Yudhistira dengan perantaraan Arjuna. Setelah Shalya gugur, Setyawati dan Sugandika – abdinya – menyusul ke Kurusetra dan ikut bunuh diri. Hal ini dipaparkan dalam bagian Salyaparva.

Madri


Madri (माद्री) atau Madrim adalah putri Artayana (dalam versi Jawa disebut Prabu Artadriya atau Mandrapati atau Mandradipa) raja kerajaan Madra atau Madras (dalam versi Jawa disebut Mandaraka). Madri mempunyai seorang kakak bernama Shalya – yang kelak menggantikan Artayana menjadi raja di Madra.

Tidak banyak hal diungkap dari sosok Madri. Ketika Madri dinikahi oleh Pandu dan mengandung, ia meminta supaya Pandu meminjam Lembu Andini kepada Batara Guru. Madri ingin menunggangi Lembu Andini bersama Pandu. Permohonan Madri melalui Pandu dikabulkan oleh Batara Guru dengan satu syarat, jika Madri mati rohnya dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka.

Sesudah melahirkan Nakula dan Sadeva, Madri membakar diri bersama dengan jenazah Pandu. Sedangkan Nakula dan Sadeva diasuh oleh Kunti hingga berakhirnya Bharatayudha.

Kunti


Kunti (कुंती) dilahirkan sebagai putri Surasena dari wangsa Yadu. Pada waktu lahir, Kunti diberi nama Pritha. Kemudian Pritha diadopsi oleh Prabu Kuntibhoja dari kerajaan Mathura atau dalam versi Jawa Prabu Kuntiboja dari Mandura. Sebelum menikah dengan Pandu, Kunti pernah mengandung. Kejadian ini bermula ketika Kunti mengucapkan mantera sebuah ajian yang dalam versi Jawa disebut Kunta Wekas Ing Tunggal Tanpa Lawanan. Ketika ia membaca mantera ajian tersebut, kalimatnya mengundang perhatian Batara Surya – dewa matahari. Surya seketika jatuh cinta kepada Kunti dan keluarlah kama yang menyebabkan Kunti mengandung. Sedangkan dalam versi aslinya, Kunti mendapatkan mantera tersebut dari seorang resi bernama Durvasa atau Druvasa. Keampuhan mantera tersebut adalah dapat mengundang dewa dan mendapatkan keturunan dari dewa tersebut. Karena Kunti tidak percaya kepada kata-kata Resi Druvasa, maka ia merapal mantera itu. Kejadian selanjutnya adalah datangnya Batara Surya yang memberi keturunan kepadanya.

Karena tidak ingin melahirkan sebelum menikah, maka Kunti memohon kepada dewata agar proses kelahiran bayi dalam kandungan tidak melalui jalan semestinya. Permohonan tersebut dikabulkan dan bayi dilahirkan melalui telinga Kunti. Bayi diberi nama Basukarna atau yang berarti telinga. Namun karena ia juga keturunan Batara Surya, maka dinamakan juga Suryaputra atau Suryatmaja. Bayi yang telah dilahirkan Kunti kemudian dihanyutkan ke sungai Yamuna (ada juga yang menyebut sungai Aswa) dan ditemukan oleh Adirata. Adirata adalah kusir kepercayaan Dhritarastra. Sejak saat itu Karna diangkat menjadi anak Adirata.

Kunti kemudian diperistri oleh Pandu. Dari rahim Kunti lahirlah Yudhistira, Bhima, dan Arjuna yang masing-masing adalah titisan Batara Dharma, Batara Bayu, dan Batara Indra. Kunti begitu mengasihi ketiga putranya dan juga kedua putra Madri, yaitu Nakula dan Sadeva yang merupakan titisan Batara Aswin. Ia mengasuh kelima putra Pandu agar menjadi ksatria yang berbudi luhur.

Kesetiaan dan kecintaan Kunti kepada kelima putra Pandu dibuktikan dengan keikutsertaannya mengembara selama 12 tahun di hutan. Kunti tabah menerima setiap cobaan dan hinaan dari Kaurava selama masa pengasingan dan pengembaraan tersebut. Kunti mendampingi Pandava hingga Bharatayudha berakhir. Ia wafat bersama Dhritarastra, Gandari, Yamawidura, dan Sanjaya dalam kebakaran yang menghanguskan pondok pertapaan dan hutan.

Kunti dalam pewayangan menjadi lambang kesetiaan seorang ibu kepada suami dan anak-anaknya. Ia tidak ikut membakar diri bersama jenazah Pandu, seperti Madri, melainkan kesetiaan kepada Pandu ditunjukkannya dengan menjalankan dharma sebagai ibu untuk membesarkan dan mengasuh anak-anaknya. Sifatnya yang pengasih dan penyayang, tabah menanggung derita-sengsara, dijadikan model ibu yang baik bagi para perempuan di India maupun tanah Jawa.

Vidura


Vidura (विदुर) atau dalam versi Jawa disebut Yamawidura dilahirkan dari seorang abdi Hastinapura melalui upacara Putrotpadana oleh Vyasa. Dalam versi Jawa abdi istana itu bernama Datri. Hal ini terjadi karena Ambika – ibu Dhritarastra – dan Ambalika – ibu Pandu – menolak untuk bertemu Vyasa. Maka keduanya menyuruh seorang abdi Hastinapura menggantikan posisi mereka.

Sebagai seorang resi begawan, tentu Vyasa mengetahui rencana Ambika dan Ambalika. Namun demikian Vyasa tetap menjalankan tugasnya, sesuai permintaan Setyawati – ibu Vicitravirya, raja Hastinapura. Dari upacara Putrotpadana tersebut lahirlah Yamawidura.

Secara fisik Vidura memiliki kaki yang timpang atau pincang. Akan tetapi ia memiliki pikiran yang jujur, cerdas dan jernih. Vidura juga sangat menguasai ilmu tatanegara. Oleh karena itu Vidura diangkat menjadi jaksa di Hastinapura. Sepeninggal Pandu, takhta Hastinapura dititipkan kepada Dhritarastra. Di dalam menjalankan roda pemerintahan Dhritarastra banyak mengandalkan kebijaksanaan Vidura. Tentu hal ini berlaku sebelum Dhritarastra menyerahkan takhta Hastinapura kepada Kaurava.

Vidura begitu mencintai kedua kakaknya – Dhritarastra dan Pandu, juga kepada putra-putra mereka – para Kaurava dan Pandava. Ia senantiasa berusaha mengarahkan Kaurava ke arah hidup yang benar. Akan tetapi Kaurava lebih mendengarkan ucapan kakak iparnya – Gandari – dan Shakuni – adik Gandari. Bagi Vidura, lebih mudah menasihati Pandava daripada Kaurava.

Dalam versi Jawa, Vidura menikah dengan Padmarini. Istrinya adalah anak Dipacandra, adipati Pagombakan yang merupakan negara bawahan Hastinapura. Vidura kemudian menggantikan Dipacandra sebagai pemimpin di Pagombakan. Dari perkawinannya dengan Padmarini, Vidura mempunyai keturunan yang dinamakan Sanjaya. Akan tetapi dalam versi asli, tak ada hubungan keluarga antara Vidura dengan Sanjaya.

Vidura pernah menyelamatkan Pandava dan Kunti dalam kejadian Bale Sigala-gala. Ketika Pandava dan Kunti dijebak dalam sebuah pondok yang kemudian dibakar oleh Kaurava. Vidura telah menyiapkan lorong bawah tanah sebagai tempat pengungsian Pandava dan Kunti.

Ketika pecah Bharatayudha, Vidura meskipun tinggal di Hastinapura, tidak berpihak kepada Kaurava. Ia juga tidak berpihak kepada Pandava. Hal ini dilakukannya demi keadilan. Jauh-jauh hari sebelum perang antardarah Bharata terjadi, ia telah mengingatkan Duryodhana terus-menerus agar menyerahkan takhta Hastinapura kepada Pandava. Bagaimanapun juga Pandava sebagai putra-putra Pandu-lah yang berhak atas Hastinapura. Akan tetapi seluruh nasihat Vidura tak dihiraukan oleh Duryodhana dan tampaknya memang sudah kehendak para dewa, bahwa Bharatayudha harus terjadi.

Setalah Bharatayudha berakhir, bersama dengan Dhritarastra, Gandari, Kunti, dan Sanjaya, Vidura menyucikan diri dengan bertapa di hutan. Sampai suatu hari dari tubuh Dhritarastra muncul api penyucian yang membakar pondok dan seluruh isinya. Demikianlah akhir hidup Vidura.

Senin, 22 Desember 2008

Dhritarastra


Dhritarastra (धृतराष) disebut juga Drestarastra, Drestarastra, Destarastra, Destarata. Ia anak sulung dari Vyasa melalui upacara putrotpadana. Kedua matanya buta karena pada waktu Vyasa menggunakan kekuatan batinnya untuk membuahi Ambika, perempuan itu memejamkan mata, melihat Vyasa yang menyala-nyala matanya.

Dhritarastra tidak memiliki pendirian yang teguh. Ia mudah sekali dipengaruhi oleh orang-orang terdekat. Ia terlalu penurut pada Dewi Gandari – isterinya, juga kepada adik Gandari – Arya Shakuni. Dalam pewayangan, Shakuni adalah tokoh licik dan senang mengadu domba demi keuntungan diri sendiri. Dari pernikahan dengan Dewi Gandari, Dhristarastra memiliki seratus anak yang disebut Kaurava atau Kurawa. Anak sulungnya bernama Duryodhana dan anak terakhirnya seorang perempuan bernama Dursilavati.

Sepeninggal Pandu, takhta Hastinapura dititipkan kepada Dhritarastra. Kendali pemerintahan dipegang olehnya dibantu Arya Shakuni. Sekian lama merasakan sebagai pemimpin Hastinapura, dalam hati Dhritarastra muncul keinginan untuk mewariskan takhta Hastinapura kepada anak-anaknya – bukan kepada Pandava. Keinginan itu gayung bersambut dengan pemikiran Arya Shakuni dan Dewi Gandari. Maka dicarilah jalan untuk melanggengkan kekuasaan, termasuk usaha membunuh Pandava. Meski berbagai usaha dilakukan, Pandava senantiasa dalam perlindungan para dewa. Semua niat jahat Dhritarastra dan Kaurava tidak sampai membinasakan Pandava.

Takhta Hastinapura diberikan kepada Duryodhana, anak sulung Dhritarastra. Wali negeri Hastinapura yang buta itu kemudian mengundurkan diri bersama dengan Yamawidura – adik beda ibu – dan Dewi Gandari. Selama Bharatayudha berlangsung, Dhritarastra dapat mengikuti seluruh jalannya peperangan dari penuturan Sanjaya. Sanjaya adalah anak Yamawidura yang menjadi kusir kereta Dhritarastra dan diberi kemampuan oleh dewa untuk melihat jalannya seluruh peperangan di padang Kurusetra, Bharatayudha.

Seusai Bharatayudha dan seluruh anaknya tewas, Dhritarastra tak kuasa menahan rasa dukanya yang mendalam. Karena putra kesayangannya - Duryodhana - tewas oleh Bhima, maka muncullah niat jahat Dhritarastra kepada Bhima. Meski buta, Dhritarastra memiliki kekuatan luar biasa. Jika ia memeluk seseorang dan mengeluarkan seluruh kekuatannya, maka remuklah orang tersebut. Begitupun ketika Pandava seusai Bharatayudha hendak menghadap kepadanya selaku sesepuh Hastinapura, Dhritarastra hendak memeluk Bhima. Niat jahat tersebut terbaca oleh Khrisna. Maka titisan Vishnu itu menarik Bhima dan menggantinya dengan patung yang menyerupai Bhima. Alhasil, Dhritarastra menghancurkan patung Bhima menjadi debu. Menyadari bahwa ia keliru, Dhritarastra akhirnya menyerahkan tampuk kekuasaan Hastinapura kepada Yudhistira dan memberkati seluruh Pandava. Dia bersama dengan Dewi Gandari, Kunti, Yamawidura, dan Sanjaya mengundurkan diri ke hutan untuk bertapa. Dhritarastra ingin menebus dosa-dosanya. Mereka berlima tinggal di dalam pondok di tengah hutan.

Pada musim kemarau yang panjang, api melalap hutan, termasuk pondok di tengah hutan dan isinya. Kelima sesepuh Hastinapura itu wafat. Dalam versi India, api tersebut bukan karena kemarau panjang, melainkan berasal dari tubuh Dhritarastra sendiri.

Pandu Devanata


Alkisah Bhisma Devabrata memenangkan sayembara di negara Kasi, mengalahkan dua raksasa Wahmuka dan Arimuka. Sebagai pemenang, Bhisma berhak memboyong tiga puteri: Dewi Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk diperistri oleh raja Hastinapura – Vicitravirya.

Dewi Amba menolak karena dia merasa, bahwa Bhisma-lah yang berhak atas dirinya, bukan Citrasena. Namun karena Bhisma telah bersumpah untuk hidup selibat, maka keinginan Dewi Amba mustahil terpenuhi. Bhisma menggertak Dewi Amba dengan panah agar meninggalkannya. Namun tanpa disadari anak panah melesat dan menembus dada Dewi Amba. Sebelum perempuan itu menemui ajalnya, mengatakan supata, bahwa dia akan datang lagi menjemput Bhisma ketika terjadi Bharatayudha. Dewi Amba akan menitis dalam diri Srikandi atau Shikandi.

Sedangkan kedua puteri lainnya, Ambika dan Ambalika diperistri oleh Vicitravirya. Malang sebelum mereka memadu kasih, Citrasena wafat. Demi kelangsungan takhta Hastinapura, maka ibu suri – Setyawati – memohon kepada Vyasa agar memberi keturunan kepada Ambiki.

Vyasa semula adalah raja Hastinapura yang kemudian mengundurkan diri untuk bertapa. Vyasa yang seorang begawan bersedia memenuhi permintaan Setyawati, demi Hastinapura – bukan demi dirinya sendiri. Sebagai seorang pertapa, maka Vyasa tidak melakukan hubungan seksual. Vyasa menggunakan kekuatan batin untuk membuahi Ambiki.

Ambiki yang belum pernah mengalami malam pertama, merasa ngeri. Sehingga selama Vyasa menggunakan kekuatan batinnya, Ambiki memejamkan mata. Beberapa waktu kemudian Ambiki mengandung, namun bayi laki-laki yang dilahirkannya buta. Bayi itu diberi nama Dhritarastra.

Setyawati kurang puas dengan bayi tersebut. Maka kembali ia meminta agar Vyasa bersedia memberi keturunan – kali ini kepada Ambalika. Sama seperti Ambiki, Ambahini belum pernah mengalami malam pertama. Maka ketika bertemu dengan Vyasa, Ambahini menjadi pucat dan memalingkan muka. Ambahini mengandung dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Bayi tersebut berwajah pucat dan kepalanya agak teleng. Karena berwajah pucat, bayi itu diberi nama Pandu (पाण्‍डु).

Meskipun Dhritarastra lebih tua, namun kepada Pandu-lah takhta Hastinapura diberikan. Kebutaan Dhritarastra itulah yang menjadi alasan mengapa ia tidak berhak atas Hastinapura.

Pandu – yang berwajah pucat – memiliki hampir semua keutamaan ksatria. Ia berjuang demi kebenaran. Pandu memiliki sifat arif dan bijaksana. Pandu Devanata menikahi Kunti dan Madri. Karena melakukan satu kesalahan, yaitu memanah rusa yang sedang berkasih-kasihan, Pandu dikutuk tidak akan memiliki anak. Rusa tersebut sebenarnya adalah penjelmaan seorang resi.

Agar kelangsungan keluarga Hastinapura terjamin, maka kemudian Kunti dan Madri memohon kepada dewa agar diberi keturunan. Dari rahim Kunti lahirlah Yudhistira, Bhima, dan Arjuna. Yudhistira adalah titisan Batara Dharma, Bhima titisan Batara Bayu, dan Arjuna titisa Batara Indra. Sedangkan dari rahim Madri lahirlah kembar Nakula dan Sadeva. Keduanya adalah titisan Batara Aswin. Kelima putra Pandu disebut Pandava.

Dalam versi Jawa, Pandu kemudian diadu domba oleh Shakuni - adik Dewi Gandari, istri Dhritarastra. Pandu bertempur melawan muridnya sendiri, raja raksasa dari Pringgadani - Prabu Tremboko. Tremboko tewas oleh panah Pandu, namun Pandu terluka oleh keris Kalanadah. Luka tersebut mengakibatkan kematiannya. Madri – sesuai dengan tradisi – ikut menceburkan diri ke dalam api yang menghanguskan jasad Pandu dalam upacara sati. Oleh para dewa kemudian Pandu dijadikan sebagai dewa pula.

Dalam versi India Pandu moksa, yakni lenyap dari dunia bersama seluruh raganya. Sedangkan jiwanya masuk ke dalam neraka sesuai perjanjian. Namun atas perjuangan Bhima, Pandu akhirnya jiwa Pandu masuk ke surga. Versi lainnya mengatakan, jiwa Pandu tetap berada di neraka asalkan seluruh anak-anaknya selamat.

Kunti, semestinya sebagai seorang istri, juga ikut membakar dirinya. Namun Kunti berpikir, bahwa harus ada yang mengasuh kelima putra Pandu. Maka ia tidak ikut membakar diri demi kelangsungan hidup keturunan Pandu.

Senin, 25 Agustus 2008

Baladewa


Baladewa atau Baladeva (बलदोव) disebut juga Balarama, Balabhadra, Halayudha, Wasi Jaladara, Begawan Kusuma Walikita, Begawan Curiganata, Kakrasana. Wujud Baladewa adalah kebalikan Krishna, adiknya. Baladewa berkulit pucat/putih, sifatnya mudah meledak-ledak, berangasan, namun mudah luluh pula hatinya. Raja Mathura ini mudah terpengaruh oleh Kurawa. Oleh karena itu, sebelum Bharatayudha ia dibujuk oleh Krishna agar bertapa di Grojogan Sewu hingga perang usai.
Baladewa adalah kakak kandung Krishna, berasal dari Vasudeva dan Devaki. Akan tetapi untuk mencegah berlakunya ramalan, bahwa ia akan dibunuh Kamsa (Kangsa), maka dengan kemampuan pemindahan janin Baladewa dipindah dari rahim Devaki ke dalam rahim Rohini. Karena peristiwa ini, maka Baladewa juga dikenal dengan nama Sankarsana yang artinya "pemindahan janin". Dalam ramalan dikatakan, bahwa Kamsa (kakak Devaki) akan terbunuh oleh anak kedelapan Devaki. Maka Devaki dipenjarakan oleh Kamsa. Ketika lahir keenam anak Devaki mati dibunuh oleh Kamsa. Untuk menyelamatkan Baladewa, maka terjadilah pemindahan janin tersebut. Baladewa dibesarkan oleh Rohini. Ia tumbuh bersama dengan Krishna sebagai penggembala ternak sapi. Kelak Krishna - anak kedelapan Devaki - akan membinasakan Kamsa, sesuai dengan ramalan.
Baladewa pernah menjadi guru bagi Bhima dan Duryodhana dalam menggunakan senjata gada. Kedua murid itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Bhima memiliki kekuatan, sedangkan Duryodhana memiliki kelincahan dalam menggunakan gada. Duryodhana adalah murid kesayangan Baladewa. Namun dalam Bharatayudha Duryodhana berhasil dikalahkan oleh Bhima dengan memukul paha Duryodhana. Kematian Duryodhana membuat Baladewa marah dan ingin membunuh Bhima. Hasrat itu dapat dicegah oleh Krishna yang bijaksana.
Baladewa menikah dengan Rewati, anak Raiwata dari Anarta. Versi lain mengatakan ia menikahi Erawati, anak Salya dari Mandaraka. Dari pernikahan itu, Baladewa berputra dua yaitu Wisata dan Wimuka.
Baladewa memiliki senjata andalan berupa gada Alugara dan senjata Nanggala. Keduanya adalah pemberian Batara Brahma.
Kematian Baladewa dikisahkan dalam Bhagavatapurana. Ia wafat setelah perang yang menghancurkan wangsa Yadu dan setelah melihat Krishna moksha. Baladewa bermeditasi di bawah pohon seperti Krishna. Lantas dari mulut Baladewa keluar ular putih bernama Sesa, yang kemudian membawa jasad Baladewa ke nirvana.

Rabu, 20 Agustus 2008

Krishna


Titisan Vishnu yang datang ke dunia. Ia adalah avatar - Tuhan atau dewa yang turun ke dunia - ke-22 dari 24 avatar menurut kepercayaan Hindu. Krishna (कृष्ण) - di samping Pandawa - adalah tokoh yang menjadi titik pusat dalam epos Mahabharata. Krishna adalah pujaan bangsa India.
Sosoknya digambarkan berkulit gelap. Sifatnya ceria, bijaksana, cerdik, dan berbelas kasih. Namun demikian jika marah, maka Krishna dapat bertiwikrama menjadi raksasa sebesar gunung. Kemarahannya adalah untuk menghancurkan angkara murka di dunia dan jagad raya. Kisah yang menceritakan Krishna berubah menjadi raksasa adalah Lakon Kresna Duta.
Bernama Janmasthami ketika dilahirkan dan diberi nama Narayan atau Narayana ketika muda. Putra dari Vasudeva atau Basudewa, raja Mathura (Mandura). Ibunya bernama Devaki (Dewani). Berdasarkan Kitab Baghavata Purana, Krishna tidak dilahirkan dari hubungan seksual. Ia dilahirkan dalam rahim Devaki karena transfer/transmisi pikiran/jiwa Vasudeva.
Krishna adalah penegak kebenaran dan keadilan. Ia memiliki senjata pusaka bernama Cakra. Pusaka lainnya adalah bunga Wijaya Kusuma yang mampu menghidupkan kembali orang yang meninggal. Krishna juga mampu menggandakan dirinya menjadi ribuan.
Setelah dewasa, Krishna menjadi raja di Dvaraka (Dwarawati), saat ini letak Dvaraka kira-kira di Gujarat (India). Ia raja yang sangat dihormati oleh kawan dan lawan. Pihak Pandawa menjadikannya penasihat utama. Sedangkan Kurawa selalu berusaha menjauhkan Pandawa dari Krishna karena mereka tahu, bahwa hanya dengan bantuan Krishna Pandawa dapat unggul dalam Bharatayudha.
Krishna memiliki banyak nama alias, seperti: Mahāyogi, Purushottama, Varshneya, Vāsudeva, Vishnu, Yādava, Yogesvara, Achyuta, Arisudana, Bhagavān, Gopāla, Govinda, Hrishikesa, Janardana, Kesava, Kesinishūdana, Mādhava, Madhusūdana, Mahābāhu.
Krishna bagi umat Hindu memiliki kedudukan yang hampir mirip dengan Yesus pada umat Kristen. Krishna adalah juru selamat manusia (Janardana).
Kisah Krishna paling menarik dan banyak dikaji adalah dalam Bhagavad Gita - di mana ia terlibat percakapan fisik dan batin tingkat tinggi dengan Arjuna. Krishna-Arjuna pada dasarnya adalah satu jiwa dalam dua personifikasi.
Dalam Bharatayudha, Krishna menjadi sais atau kusir kereta perang Arjuna. Seusai Bharatayudha, musnahlah seluruh wangsa Wresni dan Yadawa. Maka Krishna memutuskan diri untuk moksha dengan perantaraan anak panah yang dilepaskan pemburu bernama Jara yang mengenai telapak kakinya.

Senin, 11 Agustus 2008

Nakula dan Sadewa



Nakula (नकुल) dan Sadewa (सहदेव) adalah anak Pandu dari Madri. Kedua putra Pandu ini kembar. Dalam versi Jawa, Nakula dan Sadewa selalu tampil mendampingi Yudhistira.
Nakula memiliki nama lain Tripala atau Pinten, sedangkan Sadewa dikenal pula dengan sebutan Sahadewa, Sahadeva, Darmaganti atau Tangsen. Nakula mempunyai istri Dewi Soka, Sadewa beristri Dewi Padapa. Dibanding dengan Sadewa, kisah Nakula tidak begitu banyak dituturkan dalam lakon wayang. Sedangkan lakon dengan tokoh Sadewa dapat dijumpai ketika Sadewa meruwat Batari Durga menjadi dewi cantik bernama Dewi Uma. Kisah ini diceritakan dalam Lakon Sudamala.
Bagi masyarakat Jawa, Nakula dan Sadewa menjadi simbol keseimbangan. Anak-anak yang dilahirkan kembar, diharap memiliki keutamaan hidup seperti Nakula dan Sadewa.
Dalam perjalanan terakhir menuju puncak Mahameru, Nakula tewas karena meminum air dari telaga larangan. Ketika itu Nakula bermaksud mencarikan air minum bagi Yudhistira yang kehausan. Sedangkan Sadewa tewas terjatuh ke jurang pada waktu akan mencapai puncak Mahameru.

Selasa, 05 Agustus 2008

Arjuna


Tak dapat disangkal, semua orang yang mencintai wayang atau yang mengenal Mahabharata tidak asing dengan sosok bernama Arjuna (अर्जुन). Memiliki nama panggilan yang banyak: Janaka, Premadi, Permadi, Dananjaya, Pandutanaya, Bharatasresta, Bharatasattama, Bharatasabha, Mintaraga, Parta, Palguna, Jishnu, Kiriti, Bharatasresta, Sawyasachi, Swetawahana, Wrehatnala, Gandiwi, Kauntiya, Kurusattama, Parantapa, Kuntiputra, Mahabahu, Purusarsaba, Wijaya, Wibatsu, Kapidwaja, dan Gudakesa.
Nama Arjuna sendiri berarti 'jernih', 'cemerlang', 'bersinar terang'. Arjuna dalam dunia Jawa sepadan dengan Krishna dalam dunia India. Jika dalam versi India yang terkenal sebagai lelananging jagad (the best male in the universe) adalah Krishna, di dalam versi Jawa adalah Arjuna. Dikenal memiliki banyak istri: Subadra (Sembadra), Shikandi (Srikandi), Larasati, Supraba, Dresanala, Sulastri, Ulupi, Purnamasidi, Gandakusuma, Manohara, Jimambang, Ratri, Wilutama, Antakawulan, Juwitaningrat, Maheswara, Retno Kasimpar, dan Dyah Sarimaya.
Arjuna memiliki senjata andalan berupa panah bernama Pasopati. Dalam versi Jawa, senjata Arjuna lebih banyak lagi seperti panah Sarotama, panah Sirsa, panah Sangkali, panah Candranila, panah Naracabala, panah Ardhadedali, keris Baruna, keris Pulanggeni, keris Kalanadah, dan sebagainya.
Arjuna adalah ksatria yang menjadi kepercayaan para dewa. Ia sering mendapat tugas dan anugerah dewa. Dia memiliki sifat sopan, cerdik, teliti, gemar mengembara mencari ilmu, dan pengasih. Kecerdikan Arjuna teruji dalam perjalanan menuju Mahameru, ketika ia disuruh memilih manakah yang akan dihidupkan kembali oleh dewa: Bhima atau Sadewa. Arjuna memilih Sadewa, bukan Bhima - saudara kandungnya - agar dihidupkan oleh dewa. Alasan Arjuna adalah demi keadilan, jika Sadewa yang dihidupkan, maka baik Kunti maupun Madri sama-sama kehilangan satu putera.
Putra bungsu Kunti ini selalu menang dalam setiap pertempuran. Lawan paling berat yang dihadapi adalah kakaknya sendiri - Karna. Dalam perang di Kurusetra, jika tanpa siasat Krishna barangkali pertandingan antara Arjuna dan Karna akan berlangsung seimbang karena keduanya sama-sama sakti, ahli memanah, sama-sama murid kesayangan Rsi Drona dan Rsi Bhisma. Sama seperti Bhima, Arjuna tidak diperkenankan mencapai puncak Mahameru dalam keadaan hidup. Kesalahan Arjuna adalah masih menyimpan rasa cinta kepada Banowati, istri Duryodana (Duryudana) - raja Hastinapura.

Jumat, 04 Juli 2008

Bhima


Bhima (भीम), memiliki nama lain Bima, Bimasena, Bratasena, Werkudara, Bayuputra, Bayusuta, Gundawastraatmaja, Jagalabilawa. Anak kedua Pandu dari rahim Kunthi ini bersifat blak-blakan. Dalam pewayangan Jawa, Bhima dikenal tidak dapat berbahasa halus/krama kepada siapapun. Ia berbahasa halus hanya kepada Dewa Ruci.
Bhima disebut Bayuputra karena ia adalah titisan Batara Bayu, dewa penguasa angin. Versi Jawa mengatakan ketika lahir Bhima terbungkus oleh gumpalan kulit dan berbentuk bola. Berbagai macam senjata tajam untuk membuka bungkus tidak mempan digunakan. Maka para dewa mengirimkan Gajah Sena untuk memecahkan bungkus tersebut dengan gadingnya.
Bhima dalam wayang Jawa bertempat tinggal di Jodhipati atau Munggul Pamenang. Sebagai anak Pandu yang berbadan paling besar dan memiliki kekuatan fisik luar biasa, Bhima menjadi andalan bagi Amarta dalam Bharatayudha.
Bhima memiliki kuku yang panjang, kuat, dan tajam disebut Pancanaka. Dengan Pancanaka pula ia merobek tubuh Shakuni membujur dari lubang dubur hingga rongga mulut di Kurusetra. Selain Pancanaka, Bhima menggunakan gada sebagai senjata yakni gada Rujakpala dan Lambitasari. Dengan gada Bhima membinasakan Dursasana, membawakan darah Dursasana kepada Drupadi untuk mengeramasi rambutnya.
Bhima memperistri Nagagini, Arimbi, dan Urangayu. Dari perkawinan tersebut Bhima memiliki anak Antareja, Gatutkaca, dan Antasena. Agak menarik karena ketiga anak Bhima ini seperti merepresentasikan angkatan perang; Antareja yang dapat masuk ke dalam air (angkatan laut), Gatutkaca yang dapat terbang (angkatan udara), dan Antasena yang dapat masuk ke dalam tanah (angkatan darat).
Dalam akhir hidupnya - perjalanan menuju Mahameru - Bhima tewas karena meminum air telaga larangan. Ia dinilai tidak layak mencapai puncak Mahameru karena Bhima terlalu membanggakan kekuatannya.

Yudhistira


Sulung dari Pandawa ini berdasarkan Mahabharata asli India bernama Yudhistira (युधिष्ठिर). Akan tetapi di Jawa, segera saja ia mendapat nama lain seperti: Puntadewa, Dwijakangka, Dharmakusuma, Gunatalikrama, Ajathasatru, dan Samiaji. Juga di Jawa pula Yudhistira kemudian diketahui memiliki pusaka bernama Jamus Kalimasada.
Menurut Mahabharata, Yudhistira adalah titisan Batara Dharma. Pada waktu Baratayudha berakhir dan Pandawa menuju nirwana, hanya Yudhistira-lah yang sampai ke puncak Mahameru ditemani seekor anjing. Anjing tersebut adalah jelmaan Batara Dharma. Dengan demikian, kelahirannya dan kematiannya senantiasa ditemani oleh Batara Dharma.
Yudhistira memiliki watak penyabar, selalu berusaha menjaga keutuhan, ia tidak membenci siapapun - musuh sekalipun.
Kelemahan Yudhistira ialah kegemarannya berjudi. Maka pada waktu ia kalah main dadu melawan Kurawa, negara Hastinapura dipertaruhkannya.
Dalam Baratayudha, Yudhistira adalah lawan bagi Prabu Shalya dari Mandaraka. Raja tua itu terikat kutukan Begawan Bagaspati. Ajian Candhabirawa yang dimilikinya sama sekali tidak mempan melawan kehadiran Yudhistira yang tanpa senjata. Majunya Yudhistira ke ajang perang pun bukannya tanpa masalah. Sulung Pandawa ini sebenarnya enggan untuk maju berperang melawan Prabu Shalya, yang tidak lain adalah pamannya sendiri. Prabu Shalya adalah kakak Dewi Madri, ibu dari Nakula dan Sadewa.
Yudhistira menikahi Draupadi (Drupadi), anak Draupada (Drupada) raja dari negeri Pancalaradya. Dari perkawinan mereka lahirlah Pancawala. Hanya saja Pancawala tidak sempat menggantikan Yudhistira menjadi raja Amarta karena tewas dibunuh Aswatama, anak Maharsi Drona (Durna).

Senin, 30 Juni 2008

Pandawa

Pandawa berarti lima. Lima laki-laki. Jika lima perempuan, Pandawi. Dalam pewayangan, Pandawa adalah kelima putra Pandu. Sehingga Pandawa disebut juga Panduputra. Kelima putra Pandu itu berasal dari dua ibu, Kunti dan Madri atau Madrim. Dari Kunti, Pandu menurunkan tiga putra yaitu Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Sedangkan dari Madri, Pandu menurunkan dua putra kembar, Nakula dan Sadewa.
Pandawa adalah representasi dari sifat-sifat baik yang dimiliki oleh manusia. Yudhistira adalah simbol kejujuran, Bima adalah simbol kelugasan dan kesetiaan, Arjuna adalah simbol kejernihan berpikir, Nakula dan Sadewa dapat dikatakan simbol keseimbangan.
Meski Pandawa menjadi representasi keutamaan sifat manusia, mereka tidak luput dari kekurangan pula.
Hal ini mengingatkan kita pada simbol Yin-Yang dalam tradisi Asia Timur, khususnya Tao. Bahwa di dalam bagian yang berwarna putih pun terdapat lingkaran hitam.

Sabtu, 21 Juni 2008

Wayang Jawa

Ramayana dan Mahabharata yang berasal dari India memiliki pengaruh sangat luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Namun demikian dalam perkembangannya, pengaruh lokal memberi warna pada kisah Ramayana dan Mahabharata. Sebagai contoh, di Jawa ada banyak lakon wayang yang tidak dapat ditemukan di India. Ini berarti orang Jawa mengembangkan sendiri cerita wayangnya.
Kalau anda menonton wayang di Jawa, pasti ada bagian yang disebut "gara-gara" yang biasanya ditampilkan tengah malam. Di dalam adegan "gara-gara" ini muncul tokoh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang disebut Panakawan. Atau bisa juga muncul tokoh Limbuk dan Cangik. Tokoh-tokoh tersebut tidak akan dijumpai dalam versi asli dari India.
Kisah Gatotkaca Edan, Dewa Ruci, dan semacamnya tidak ada dalam versi asli. Semua lakon di luar sumber asli India, adalah karangan orang Jawa yang dikaitkan dengan dunia batin orang Jawa. Sebagai contoh lakon Dewa Ruci banyak dipengaruhi tasawuf Islam yang dikembangkan oleh walisanga. Tokoh Dewa Ruci adalah hasil ciptaan budaya Jawa.
Kisah Ramayana dan Mahabharata yang masuk di Jawa telah diperkaya dengan kearifan dunia batin orang Jawa. Maka pantaslah jika UNESCO menjadikan wayang sebagai warisan budaya dunia.

Minggu, 15 Juni 2008

Mahabharata

Mahabharat atau Mahabharata adalah epos terbesar dalam kesusastraan India. Bentuknya berupa kakawin dalam bahasa Sanskrit, terdiri dari 90.000 seloka dalam 220.000 baris. Epos ini terdiri dari 18 parwa atau buku, disebut Asthadaçaparwa. Sejak ±300 sM hingga ±300 M, syair Mahabharata terus ditambah dengan bahan-bahan yang sudah ada dalam bentuk purana, gatha, dan sebagainya. Kisah tambahan yang cukup penting adalah Harivamça dalam bentuk syair yang menjelaskan kehidupan dan silsilah Krishna.

Penulis Mahabharata adalah Krishna Dvaipayana atau Vyasa, yang oleh masyarakat Jawa dikenal sebagai Abiyasa. Pada zaman pemerintahan Jayabaya (1115 – 1130) di Kediri, epos Mahabharata disadur oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh dalam bahasa Jawa Kuno. Kemudian oleh pujangga Yasadipura I (Yosodipuro I) dan Ranggawarsita (Ronggowarsito) disadur kembali dalam bahasa Jawa Baru dalam bentuk tembang.

Pokok dari epos ini adalah perang antara kebaikan yang direpresentasikan oleh Pandawa melawan kejahatan yang direpresentasikan oleh Kurawa. Pandawa adalah keturunan Pandu, sedangkan Kurawa adalah keturunan Kuru. Keduanya memiliki darah Bharata. Di antara keduanya terdapat Krishna yang berpihak pada Pandawa.

Di dalam Mahabharata terdapat bagian tambahan yang cukup penting, yakni Bhagavad Gita yang berarti Nyanyian Tuhan. Isinya adalah percakapan antara Krishna sebagai titisan Vishnu dengan Arjuna sebagai ksatria sebelum maju ke Bharatayudha.

Mahabharata juga memuat hal-hal berkaitan dengan tatanegara, nasihat, legenda, mitos, pengetahuan alam, moksa, dan adat kebiasaan India Kuno.